jaringan perdagangan


JARINGAN PERDAGANGAN ARAB – INDONESIA

Oleh : Teddy Khumaedi[1]

 

Sumber-sumber yang memfokuskan pada pada pedagang Arab di Indonesia pada masa awal, yang bersandar pada sumber-sumber historis Indonesia seperti hikayat atau cerita local, masih jarang dan tidak lengkap. Oleh karena itu, untuk merekonstruksi sejarah pedagang-pedagang Arab yang datang ke Indonesia dan menjalin jaringan perdagangan dengan orang Indonesia, harus di dukung oleh sumber-sumber historis lain, misalnya laporan-laporan asing: Arab, Tionghoa, Portugis, Belanda, dan lain-lain. Data arkeologis seperti nisan-nisan kubur dan benda-benda tersusun lain di Negara ini juga bermanfaat untuk memperkuat sumber-sumber sejarah tersebut. Ada beberapa naskah (manuskrip) yang ditulis dalam beberapa bahasa, seperti bahasa Arab, Melayu, Sunda, Jawa, Bugis, Makassar, Sasak, dan lai-lain, yang telah terdaftar dalam beberapa catalog yang diterbitkan oleh beberapa lembaga (Uka Tjandrasamita, 1996: 235-263). Naskah-naskah tersebut dapat dipilih dan dipelajari untuk merekonstruksi sejarah Islam di Indonesia, khususnya dala sejarah intelektual, sejarah social, sejarah politik, sejarah budaya, sejarah ekonomi dan seterusnya. Setelah diseleksi dan dikritisi baik secara internal maupun eksternal berdasarkan metodologi sejarah, maka naskah-naskah tersebut dapat digunakan untuk historiografi tertentu tergantung pada tema yang dibutuhkan. Selain itu, jika sumber-sumber historis ini dapat ditinjau dari pendekatan ilmu pengetahuan social yang biasa dinamakan pendekatan mazhab Annales (Peter Burke, 1990: 2), maka hasil sejarah yang ditulis akan bersifat komprehensif dan memadai bagi pembaca yang tertarik pada sejarah.[2]

Pelayaran dan hubungan perdagangan memang mempunyai keterkaitan yang erat. Kepulauan Indonesia dengan beberapa pulau yang terletak antara dua benua, Asia dan Australia, mempunyai posisi geografis yang strategis bagi perkembangan pelayaran sepanjang jalur laut hingga menuju rute perdagangan internasional sepanjang laut India dan Tiongkok. Sejak abad pertama Masehi, perdagangan internasional antara India dan Indonesia melalui Selat Malaka dan sepanjang Laut Cina sampai Timur Jauh, telah terjadi (J.C van Leur, 1995: 90). Sejak abad ke-7 dan 8 M, rute perdagangan internasional melalui Selat Malaka itu makin berkembang hingga tumbuh  dan berkembangnya tiga dinasti yang berkuasa, yakni Dinasti Umayyah (660-749 M) di Asia Barat, Kerajaan Sriwijaya (Abad ke-7-14) di bagian barat Indonesia di Asia Tenggara, dan Dinasti Tang di Tiongkok (618-907), Asia Timur (Geogre Fadlo Hourani, 1951: 62; Uka Tjandrasasmita, 1978: 143).[3]   Menurut salah satu tradisi Tionghoa, orang Muslim pertama kali datang ke Tiongkok pada masa kekuasaan Tai Tsung (627-650 M), raja kedua Dinasti Tang. Mereka berjumlah empat orang. Satu dari mereka membuat tempat kediaman di Canton dan orang yang kedua di kota Yang Chow. Sementara yang ketiga dan keempat pergi ke kota Chuang Chow dan tinggal di sana. Adalah Saad bin Abi Waqqas yang membuat fondasi Mesjid Canton yang sekarang dikenal sebagai Wai Shin Zi yaitu Mesjid Peringatan Nabi. Dalam buku Chee Chea Sheehuzoo (Riwayat Kehidupan Nabi), seorang pengarang Muslim abad ke-18, Lui Tshich, menulis: “Ketika Saad ibn Abi Waqqas kembali ke Arab setelah tinggal lama di Canton, Khalifah Usman mengirim dia kembali sebagai utusan ke kaisar Tionghoa. Namun demikian, dia tidak dapat kembali ke Arab untuk kedua kalinya dan akhirnya meninggal di Canton.” (M. Rafiq Khan, 1965: 1-2).[4]  

Hubungan dagang antara orang Arab dan Persia dengan Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-18 dapat diperkuat keterangannya oleh dua surat yang dikirim oleh Kerajaan sriwijaya kepada Khalifah Bani Umayyah. Surat pertama diberikan oleh al-Jahiz (Amir al-Bhr, 163-255 H/ 753-869 M) dan berdasarkan cerita surat itu ditujukan kepada Khalifah Muawiyah. Sedangkan surat kedua dengan isi yang sama dijaga keamanannya oleh Ibn Abd al-Rabbih (244-329/860-940 M). Surat tersebut dikirim maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abd al-Aziz (99-102 H/717-720 M) yang berisi hadiah sebagai tanda persahabatan (Azyumardi Azra, 1994: 41).[5]

Pedagang Arab (Ta-Shih) dan Persia (Po-Sse) yang dating ke Jambi dapat dibuktikan dengan catatan Tionghoa abad ke-9, yakni Pei Hu Lu tahun 875 M, yang menyebutkan kedatangan Ta-Shih dan Po-Sse ke Chan Pei untuk membeli buah pinang. Kedatangan orang Arab maupun orang Persia ke Jambi terjadi sejak abad ke-9 M, meskipun pada waktu itu Islam belum berkembang secara luas di kawasan ini. Islam baru berkembang secara luas ketika berada di bawah kekuasaan Orang Kayo Hitam, salah satu sultan yang terkenal dari jambi yang berkuasa sejak permulaan abad ke-16 (O.W. Wolters, 1967: 144; Uka Tjandrasasmita, 1992).[6] Perkrmbangan perdagangan dan pelayaran orang Arab dan Persia dengan Asia Tenggara disebabkan perkembangan kota-kota pelabuhan di Timur Tengah. Dengan munculnya Abbasid, Suhar, pusat paling penting di Oman, tidak hanya menjadi kota paling indah  di seluruh Teluk Persia, tetapi juga sebuah pusat komersial terkemuka dengan penduduk campuran Arab dan Persia. Masqat menjadi pusat penting di mana kapal memuat persediaan air tawar dan daging domba, sebelum diberangkatkan melalui perjalanan panjang, menyeberangi Samudera Hindia menuju India dan Tiongkok. Dengan Baghdad sebagai pusatnya, beberapa pusat penting perdagangan berkembang di sebelah utara Teluk seperti Basrah, Kufah, Wasit dan al-Ubulla. Selama periode Buyid (952-1044 M), Siraf menjadi pelabuhan paling berpengaruh di kawasan ini dan penduduk Arab dan Persia diajak bekerja sama dalam kegiatan perdagangan dengan India dan Tionghoa. Beberapa Negara Timur Tengah di sepanjang Laut Merah dan Arabia Selatan menjadi lebih berkembang dan maju sebagai pusat perdagangan. Pusat-pusat perdagangan lain di sepanjang Laut Merah adalah Jeddah yang sangat aktif dalam melakukan kegiatan dagang dengan pelabuhan-pelabuhan India. Beberapa pedagang Arab dari Jeddah berangkat ke beberapa pelabuhan di Asia Tenggara dan Timur Jauh, sehingga tak diragukan bahwa orang Arab memainkan peran penting dalam kegiatan perdagangan dengan Negara-negara lain yang jauh selama periode tertentu dari sejarahnya.[7]

Jaringan dagang dengan Negara-negara Muslim di Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Timur Jauh dari abad ke-7 sampai abad ke-12, mempunyai pengaruh besar bagi pertumbuhan Samudera Pasai sebagai kesultanan pertama di Indonesia atai di Asia Tenggara sejak abad ke-13. Pertumbuhan dan perkembangan Samudera Pasai dapat dibuktikan dari cerita local, misalnya Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai  dan juga dari nama-nama sultan di Arab yang tertulis di Batu nisan mereka. Di antaranya adalah nisan kubur Sultan Malik as-Salih yang meninggal pada 696 H atau 1297 M (J.P. Moquette, 1913: 1-12).[8]  Menarik untuk dicatat bahwa pada abad ke-11, sebelum pertumbuhan Kesultanan Samudera Pasai, kawasan pantai Jawa Timur telah didatangi oleh pedagang-pedagang Muslim yang bertempat tinggal di Leran, dekat Gresik. Hal ini dibuktikan oleh temuan sebuah batu nisan yang bertuliskan bahasa Arab dan tulisan Kufi yang menyebutkan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang meninggal pada 475 H/1082 M.berdasarkan gaya Kufi pada perhiasan Kufi dan Kufi Timur yang mencapai puncak perkembangan dari abad ke-11 hingga 12 di bawah kepemimpinan Sultan Saljuk, kekhalifahan Abbasiah yang terakhir,    


[1] Mahasiswa Pascasarjana, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jur. Konsentrasi Sejarah Kebudayaan Islam angkatan tahun 2011-2013

[2] Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, PT. Kompas Gramedia Jakarta, cet. Pertama 2009, hal. 71

[3] Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, PT. Kompas Gramedia Jakarta, cet. Pertama 2009, hal. 72

[4] Ibid

[5] Ibid h. 73

[6] Ibid h. 74

[7] Ibid

[8] Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, PT. Kompas Gramedia Jakarta, cet. Pertama 2009, hal. 75

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s