Dinasti Abbasiyah


Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu Dinasti dalam Islam yang pernah menjadi Negara adidaya. Dinasti tersebut merupakan lambing supremasi kemajuan dan kejayaan Islam di masa lampau, terutama pada masa Islam klasik atau periode pertama pemerintahan dinasti tersebut. Pada periode-periode berikutnya peran politik dan militer mengalami kemunduran, kecuali di bidang sosial, ekonomi dan peradaban yang tetap mengalami kemajuan.[1]

Dinasti Abbasiyah, secara realitas merupakan kelanjutan dari dinasti Bani Umayyah walaupun pada hakekatnya secara administrative structural kedua dinasti tersebut tidak ada kaitannya, bahkan keduanya saling berkonfrontasi. Pergantian tersebut mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar perubahan kekuasaan semata. Peristiwa itu merupakan revolusi dalam sejarah Islam. Revolusi itu tidak terjadi karena kudeta melainkan hasil kegiatan propaganda revolusioner yang menghimpun berbagai kekuatan orang-orang yang tertindas dalam waktu yang cukup panjang.[2]

 

Perumusan Masalah

Periode Abbasiyah dalam sejarah Islam dan peradabannya merupakan periode yang sangat panjang. Sebagaimana disebut di awal, perode Abbasiyah setelah melewati beberapa fase, dinasti ini menyaksikan perpecahan politis hingga melahirkan berpuluh-puluh dinasti  di berbagai wilayah. Salah  satu di antara dinasti-dinasti tersebut adalah dinasti Fathimiyah. Dinasti inilah yang dibahas dalam penelitian ini.

 

Dalam deskripsi persoalan-persoalan berkenaan dengan pembahasan dalam penelitian ini, setidaknya ada empat persoalan yang akan menjadi patokan pembahasan  : Pertama, latar belakang Fenomena sejarah kemunculan dinasti fathimiyah; Kedua, apa sumbangan terbesar peradaban Islam di masa Dinasti fathimiyah, khususnya di masa khalifah Mu’izzudin li din Allah; Ketiga, apa yang menjadi faktor utama kontroversi penisbatan nama Fathimiyah pada dinasti Fathimiyah; Keempat, apa penyebab factor utama keruntuhan dinasti Fathimiyah, adakah korelasinya dengan pemicu terjadinya perang salib dan bagaimana posisi keterkaitan khalifah dalam terjadinya perang salib.

 

Kekuasaan politik dan kedaulatan merupakan jaminan Tuhan untuk umat manusia dan merupakan perwakilan Tuhan kepada manusia untuk melaksanakan hukum-hukum-Nya. Dan hukum-hukum Allah yang berlaku untuk hamba-hamba-Nya tidak lain hanya untuk kebaikan dan menjaga kemaslahatan-kemaslahatanya. Hal ini diperlihatkan oleh syariat-syariat agama. Sedangkan hukum-hukum yang buruk berasal dari kebodohan dan setan, berbeda dengan takdir dan kekuasaan Tuhan. Dia menciptakan keduanya baik dan buruk serta menetapkannya, sebab tak ada yang bisa melakukan keduanya kecuali dia.

 

Kata khailafah diturunkan dari kata khalafa, yang berarti seseorang yang menggantikan orang lain sebagai penggantinya.[3] Istilah khilafah adalah sebutan untuk masa pemerintahan khalifah.[4] Dalam sejarah, khilafah sebutaan bagi suatu pemerintahan pada masa tertentu, seperti khilafah Abu Bakar, khilafah Umar bin Khattab dan seterusnya untuk melaksanakan wewenang yang diamanahkan kepada mereka.

 

Kata khilafah serupa pula dengan kata imamah yang berarti keimanan, kepemimpinan, pemerintahan, dan dengan kata imarah yang berarti keamiran, pemerintahan.[5]

Orang yang menjalankan tugas kekhalifahan disebut khalifah atau imam. Disebut khalifah karena orang yang berkuasa itu menggantikan tugas-tugas Nabi Muhammad terhadap umatnya. Sedangkan disebut imam karena mengidentikkannya dengan imam shalat dalam hal mengikuti dan menurut segala tingkah laku dan perbuatannya. Oleh karena itulah, jabatan ini disebut imamah kubra (keimaman paling besar)[6]

  

 

Maududi menjelaskan bahwa yang diberi tanggung jawab khilafah yang sah dan benar bukanla perorangan, keluarga atau kelas tertentu, tetapi komunitas secara keseluruhan yang meyakini dan menerima prinsip dan gagasan bahwa kekuasaan Allah dan Rasul-Nya di bidang perundang-undangan, menyrahkan kedaulatan hokum tertinggi kepada keduanya dan meyakini bahwa khilafahnya itu mewakili Sang Hakim yang sebenarnya yaitu Allah Swt.[7]

 

 

Khilafah dan imamah memiliki sejarah yang panjang dan penting di dunia Islam. Institusi khilafah muncul sejak Abu Bakar terpilih sebagai khalifah  Rasul dan berlanjut pada masa Umar, Usman dan Ali. Kemudian terbentuk pul khilafah Bani Umayyah di Damaskus dan Spanyol, khilafah Bani Abbasiyah di Baghdad, khilafah Fathimiyah di Mesir, khilafah Turki Usmani di Istanbul. Terbentuknya khilafah-khilafah tersebut sekaligus telah mengubah system dan bentuk pemerintahan dari system musyawarah pada masa Khulafa Rasyidin kepada system dan bentuk dinasti dan monarki.[8] Perubahan system tersebut diawali pada saat berkuasanya Muawiyah


[1] JJ Saunders, A History of Medieval Islam, (London : Routledge and Kegan Paul, 1978), h. 121

[2] Bernard Lewis, The Arabs in History, terjamahan Said Jamhari, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah , (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 1994), h. 76

[3] Ibn Mnazhur, Lisan al-‘Arab, (Beirut : Dar Sahdir, 1968), Vol. IX, h. 83. Ibrahim Anis dkk, Al-Mu’jam al-Wasith, (Mesir : Dar al-Ma’arif, 1972), h. 251

[4] Thomas Patrick Hughes, Dictionary of Islam, (New Delhi : Oriental Books Print Corporation, 1976), h. 270

[5] Mohammad E Hasin, Kamus Istilah Islam, (Bandung : Penerbit Pustaka, 1987), h. 55

[6] Khaldun, Muqaddimah Abnu, h. 232-234

[7] Abu al-A’la al-Maududi, Al-Khilafah wa al-Mulk, terjemahan Muhammad al-Baqir, Khilafah dan Kerajaan, (Bandung : Mizan, 1996), h. 67

[8] Khaldun, Muqaddimah Ibn, h. 247-258

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s