Dinasti Abbasiyah


Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu Dinasti dalam Islam yang pernah menjadi Negara adidaya. Dinasti tersebut merupakan lambing supremasi kemajuan dan kejayaan Islam di masa lampau, terutama pada masa Islam klasik atau periode pertama pemerintahan dinasti tersebut. Pada periode-periode berikutnya peran politik dan militer mengalami kemunduran, kecuali di bidang sosial, ekonomi dan peradaban yang tetap mengalami kemajuan.[1]

Dinasti Abbasiyah, secara realitas merupakan kelanjutan dari dinasti Bani Umayyah walaupun pada hakekatnya secara administrative structural kedua dinasti tersebut tidak ada kaitannya, bahkan keduanya saling berkonfrontasi. Pergantian tersebut mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar perubahan kekuasaan semata. Peristiwa itu merupakan revolusi dalam sejarah Islam. Revolusi itu tidak terjadi karena kudeta melainkan hasil kegiatan propaganda revolusioner yang menghimpun berbagai kekuatan orang-orang yang tertindas dalam waktu yang cukup panjang.[2]

 

Perumusan Masalah

Periode Abbasiyah dalam sejarah Islam dan peradabannya merupakan periode yang sangat panjang. Sebagaimana disebut di awal, perode Abbasiyah setelah melewati beberapa fase, dinasti ini menyaksikan perpecahan politis hingga melahirkan berpuluh-puluh dinasti  di berbagai wilayah. Salah  satu di antara dinasti-dinasti tersebut adalah dinasti Fathimiyah. Dinasti inilah yang dibahas dalam penelitian ini.

 

Dalam deskripsi persoalan-persoalan berkenaan dengan pembahasan dalam penelitian ini, setidaknya ada empat persoalan yang akan menjadi patokan pembahasan  : Pertama, latar belakang Fenomena sejarah kemunculan dinasti fathimiyah; Kedua, apa sumbangan terbesar peradaban Islam di masa Dinasti fathimiyah, khususnya di masa khalifah Mu’izzudin li din Allah; Ketiga, apa yang menjadi faktor utama kontroversi penisbatan nama Fathimiyah pada dinasti Fathimiyah; Keempat, apa penyebab factor utama keruntuhan dinasti Fathimiyah, adakah korelasinya dengan pemicu terjadinya perang salib dan bagaimana posisi keterkaitan khalifah dalam terjadinya perang salib.

 

Kekuasaan politik dan kedaulatan merupakan jaminan Tuhan untuk umat manusia dan merupakan perwakilan Tuhan kepada manusia untuk melaksanakan hukum-hukum-Nya. Dan hukum-hukum Allah yang berlaku untuk hamba-hamba-Nya tidak lain hanya untuk kebaikan dan menjaga kemaslahatan-kemaslahatanya. Hal ini diperlihatkan oleh syariat-syariat agama. Sedangkan hukum-hukum yang buruk berasal dari kebodohan dan setan, berbeda dengan takdir dan kekuasaan Tuhan. Dia menciptakan keduanya baik dan buruk serta menetapkannya, sebab tak ada yang bisa melakukan keduanya kecuali dia.

 

Kata khailafah diturunkan dari kata khalafa, yang berarti seseorang yang menggantikan orang lain sebagai penggantinya.[3] Istilah khilafah adalah sebutan untuk masa pemerintahan khalifah.[4] Dalam sejarah, khilafah sebutaan bagi suatu pemerintahan pada masa tertentu, seperti khilafah Abu Bakar, khilafah Umar bin Khattab dan seterusnya untuk melaksanakan wewenang yang diamanahkan kepada mereka.

 

Kata khilafah serupa pula dengan kata imamah yang berarti keimanan, kepemimpinan, pemerintahan, dan dengan kata imarah yang berarti keamiran, pemerintahan.[5]

Orang yang menjalankan tugas kekhalifahan disebut khalifah atau imam. Disebut khalifah karena orang yang berkuasa itu menggantikan tugas-tugas Nabi Muhammad terhadap umatnya. Sedangkan disebut imam karena mengidentikkannya dengan imam shalat dalam hal mengikuti dan menurut segala tingkah laku dan perbuatannya. Oleh karena itulah, jabatan ini disebut imamah kubra (keimaman paling besar)[6]

  

 

Maududi menjelaskan bahwa yang diberi tanggung jawab khilafah yang sah dan benar bukanla perorangan, keluarga atau kelas tertentu, tetapi komunitas secara keseluruhan yang meyakini dan menerima prinsip dan gagasan bahwa kekuasaan Allah dan Rasul-Nya di bidang perundang-undangan, menyrahkan kedaulatan hokum tertinggi kepada keduanya dan meyakini bahwa khilafahnya itu mewakili Sang Hakim yang sebenarnya yaitu Allah Swt.[7]

 

 

Khilafah dan imamah memiliki sejarah yang panjang dan penting di dunia Islam. Institusi khilafah muncul sejak Abu Bakar terpilih sebagai khalifah  Rasul dan berlanjut pada masa Umar, Usman dan Ali. Kemudian terbentuk pul khilafah Bani Umayyah di Damaskus dan Spanyol, khilafah Bani Abbasiyah di Baghdad, khilafah Fathimiyah di Mesir, khilafah Turki Usmani di Istanbul. Terbentuknya khilafah-khilafah tersebut sekaligus telah mengubah system dan bentuk pemerintahan dari system musyawarah pada masa Khulafa Rasyidin kepada system dan bentuk dinasti dan monarki.[8] Perubahan system tersebut diawali pada saat berkuasanya Muawiyah


[1] JJ Saunders, A History of Medieval Islam, (London : Routledge and Kegan Paul, 1978), h. 121

[2] Bernard Lewis, The Arabs in History, terjamahan Said Jamhari, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah , (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 1994), h. 76

[3] Ibn Mnazhur, Lisan al-‘Arab, (Beirut : Dar Sahdir, 1968), Vol. IX, h. 83. Ibrahim Anis dkk, Al-Mu’jam al-Wasith, (Mesir : Dar al-Ma’arif, 1972), h. 251

[4] Thomas Patrick Hughes, Dictionary of Islam, (New Delhi : Oriental Books Print Corporation, 1976), h. 270

[5] Mohammad E Hasin, Kamus Istilah Islam, (Bandung : Penerbit Pustaka, 1987), h. 55

[6] Khaldun, Muqaddimah Abnu, h. 232-234

[7] Abu al-A’la al-Maududi, Al-Khilafah wa al-Mulk, terjemahan Muhammad al-Baqir, Khilafah dan Kerajaan, (Bandung : Mizan, 1996), h. 67

[8] Khaldun, Muqaddimah Ibn, h. 247-258

Iklan

Kiprah Iran Pasca Revolusi Islam


Diawal tahun 1979, Ayatullah Ruhullah Khomeini memimpin sebuah revolusi Islam menumbangkan penguasa monarkhi, Shah Pahlevi. Kemenangan rakyat Iran ini adalah bencana besar bagi Amerika Serikat, karena hal ini sama artinya dengan kehilangan sahabat karib. Terlebih lagi pemerintahan baru yang dipimpin oleh kaum Mullah sangat anti-AS , bahkan Ayatullah Khomeini menjulukinya ”Setan Besar”. Iran memiliki arti strategis bagi AS sebagai negara penyangga untuk membendung wilayah Timur Tengah dari pengaruh komunisme Uni Soviet, dan juga untuk menjamin keamanan sekutu utamannya di wilayah kaya minyak tersebut, Israel.

Sejak berada dalam pangkuan pemerintahan Islam-Syiah, Iran mengorientasikan kebijakan luar negerinya pada penyebaran nilai-nilai revolusi Islam ke negara-negara Arab dan Islam agar kaum Muslimin bangkit melawan para penguasa yang represif (dan sekuler). Cita-cita ini terbukti dengan lahirnya gerakan-gerakan perlawanan di berbagai wilayah konflik di Timur Tengah seperti Lebanon, Palestina dan Irak, tidak lama setelah gelombang revolusi menyapu Iran.

Belum genap satu tahun pasca revolusi, pada September 1980 Iran harus menghadapi gempuran dari pasukan Irak. Serangan tersebut dilakukan karena penguasa Irak, Saddam Hussein (1979-2003), merasa khawatir akan masuknya pengaruh Revolusi Islam Iran ke Irak dan negara-negara Arab lainnya. Perang yang berlangsung selama delapan tahun ini membawa dampak politik yang besar di Timur Tengah, karena memecah negara-negara Arab ke dalam dua “poros”. Dua negara Arab “radikal”, Libya dan Suriah, berada di pihak Iran. Langkah kedua negara ini memang sangat berani, karena Uni Soviet yang merupakan pensuplay utama persenjataannya berada di pihak Baghdad. Untuk mengimbangi poros Iran-Libya-Suriah, negara-negara Teluk membentuk GCC (Gulf Coooperation Council) yang berangggotakan Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman dan Uni Emirat Arab, sedangkan negara-negara Arab konservatif membentuk ACC (Arab Cooperation Council) yang beranggotakan Mesir, Irak, Yaman dan Yordania.
Keterlibatan Iran dalam konflik Lebanon adalah karena alasan ideologis-politis. Iran banyak memberikan dukungan atas perjuangan kaum Syi’ah di Lebanon yang walaupun mayoritas tetapi diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Beirut yang didominasi oleh golongan Maronit dan Islam Sunni. Ketika terjadi eskalasi konflik, dukungan kuat Iran tertuju kepada Hizbullah dan Amal Al-Islam. Kedua milisi bersenjata ini adalah yang garis perjuangannya konsisten pada nilai-nilai Islam Syiah.

Hizbullah adalah kelompok yang dibentuk oleh Sayyid Muhammad Hussein Fadhlalah. Gerakan yang sekarang dipimpin oleh Sayyid Hasan Nashrallah ini memperoleh dukungan dana dan perenjataan dari Teheran, sehingga pada saat ini Hizbulllah menjelma menjadi milisi bersenjata terkuat di Lebanon. Pada Juni 1975, Imam Syiah Lebanon, Ayatullah Musa Al-Sadr mendirikan Harakat Al-Mahrumin. Gerakan ini kemudian membentuk sayap militer Amal (Afwaj Al-Muqawamah Al-Lubnaniyah). Setelah Imam Musa wafat pada tahun 1978, Amal terpecah menjadi dua, yaitu Amal pimpinan Nabih Berri yang berorientasi nasionalis-sekular dan Amal Al-Islam pimpinan Hussein Al-Musawi yang ”fundamentalis-Islam” . Di samping itu, Iran juga mendukung beberapa kelompok perlawanan lain seperti Jihad Islam, Organisasi Keadilan Revolusioner (keduanya berpaham Syi’ah), dan Tauhid (Sunni).

Irak adalah negara tetangga Iran yang 60-65% penduduknya berpaham Syiah, namun politik dan pemerintahannya selalu dikuasai oleh kaum Sunni. Bahkan sejak Saddam Hussein berkuasa, represi pemerintah terhadap kaum Syiah semakin meningkat. Pada tahun 1980, misalnya, pemimpin Syiah Irak, Imam Ayatullah Baqir Al-Shadr, dihukum mati bersama keluarga dan sejumlah pengikutnya. Oleh karena itu, banyak sekali rakyat dan pemimpin Syiah Irak yang melarikan diri ke Iran untuk mencari perlindungan, dan menjadikan Iran sebagai tempat pembentukan dan basis gerakan subversif terhadap rezim Saddam Hussein. Paling tidak ada empat kelompok oposisi Syiah Irak yang berbasis di Teheran, yaitu SAIRI (The Supreme Assembly of the Islamic Revolution in Iraq), Partai Dakwah Islam, Al-Mujahidin dan Organisasi Aksi Islam. Hal ini kemungkinan karena kedua negara saling berbatasan, serta adanya ikatan keagamaan sebagai sesama pemeluk mazhab Syiah Itsna Asy’ariyah (Syiah DuaBelasImam) .

Tumbangnya rezim Saddam Hussein mengakhiri penderitaan kaum Syiah Irak dari represi rezim tersebut, namun menghantarkan pada ancaman baru yang lebih besar, yakni Amerika Serikat. Keberadaan AS sebagai hegemon baru di Irak menjadi musuh bagi para kelompok oposisi dan sayap militernya yang dulu menentang Saddam Hussein, baik yang berbasis Sunni maupun Syiah.

 

 

KOTA MAKKAH ADALAH PUSAT BUMI


Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.

Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”

Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut. Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah.

Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.

Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut ( dari Ka’Bah ) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.

Rasulullah SAW bersabda :

“Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam”

Radiasi dari Ka’bah ini tak dapat diketahui tanpa pesawat antariksa abad 20, membuktikan jika Qur’an ialah berasal dari ALLAH, & bukti Qur’an mukjizat sepanjang masa. Karena banyak ayat yang baru dapat dibuktikan oleh peralatan terakhir, zaman terakhir.

Adakah hadis nabawi yg mbuktikan fakta yang mengejutkan ini?

Jawapannya adalah YA..

Nabi bersabda:
‘Ka’bah itu adalah sesistem tanah di atas air, dari tempat itu bumi ini diperluas.’ Ini dapat dibuktikan dgn fakta2 saintifik:

Bukti2 Makkah Pusat Bumi

[ Bukti 1 ]
Allah berfirman di dalam al-Qur’an al-Karim sebagai berikut:

‘Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya..’ (asy-Syura: 7)

Kata ‘Ummul Qura’ berarti ibu bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya.

Sebagaimana seorang ibu adalah sumber keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber kepada semua negeri lain, sebagaimana dijelaskan pada awal kajian ini.

[ Bukti 2 ]
Ada beberapa ayat dan hadis nabawi yang memperkuatkan fakta ini. Allah berfirman maksud-nya:

Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembusi (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusinya kecuali dengan kekuatan (ilmu pengetahuan). (ar-Rahman: 33).

Berdasarkan ayat ini dan beberapa hadis dapat difahamkan bahawa diameter lapisan-lapisan langit itu di atas diameter bumi (tujuh lempengan bumi). Jika Mekah berada di tengah-tengah bumi, dengan itu bererti bahwa Mekah juga berada di tengah-tengah lapisan langit.

[ Bukti 3 ]
Selain itu ada hadis yang menerangkan bahawa Masjidil Haram di Mekah, tempat kaabah berada itu ada di tengah-tengah tujuh lapisan langit dan tujuh lapisan yang membentuk bumi.

Nabi SAW bersabda maksudnya:
“Wahai orang-orang Mekah, wahai orang-orang Quraisy , sesungguhnya kamu berada di bawah pertengahan langit”.

[ Bukti 4 ]
Prof. Hussain Kamel menemukan suatu fakta mengejutkan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Pada mulanya ia meneliti suatu cara untuk menentukan arah kiblat di kota-kota besar di dunia.

Untuk tujuan ini, ia menarik garis-garis pada peta, dan sesudah itu dia meneliti posisi 7 benua terhadap Makkah dan jarak masing-masing. Setelah 2 tahun membuat kajian yg complex itu dgn program2 komputer utk menentukan jarak2 yg tepat dll. Dia merasa kagum dengan apa yang ditemukan, bahwa Makkah merupakan pusat bumi.

Dia mengumpamakan seperti 1 lingkaran dan Makkah ialah titik pusatnya, dan garis luar lingkaran itu adalah benua-benuanya. Pada waktu yang sama, ia bergerak bersamaan dengan keliling luar benua-benua tersebut. (Majalah al-Arabiyyah, edisi 237, Ogos 1978).

[ Bukti 5 ]
Gambar-gambar Satelit, yang muncul kemudian pada tahun 90-an, memberikan hasil yang sama ketika kajian lebih lanjut mengarah kepada topografi lapisan-lapisan bumi dan geografi waktu daratan itu diciptakan.

[ Bukti 6 ]
Telah ada teori ilmiah yg sahih bhawa lempengan-lempengan bumi terbentuk selama usia geologi yang panjang, bergerak secara teratur di sekitar lempengan Arab. Lempengan-lempengan ini terus menerus memusat ke arah itu seolah-olah menunjuk ke Makkah.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. QS. 4 An-Nisaa’:82

NURCHOLIS MADJID DAN AMIEN RAIS


KOMPARASI PEMIKIRAN DUA CENDIKIAWAN MUSLIM INDONESIA

NURCHOLIS MADJID DAN AMIEN RAIS

TERHADAP PERKEMBANGAN POLITIK DI INDONESIA

 

 

 

Nurcholis Madjid atau biasa kita sapa dengan sebutan Cak Nur, lahir di Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 17 Maret 1939 atau bertepatan dengan 26 Muharram 1350 Hijriyah. Ayahnya KH. Abdul Madjid, seorang kyai jebolan Pesantren Tebuireng, Jombang, yang didirikan dan dipimpin oleh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Ibunya putrid Kyai Sadjad dari Kediri yang juga teman dari KH. Hasyim Asy’ari (Dedi Djamaluddin Malik dan Idi Subandy Ibrahim. 1998).

 

Sejak kecil Nurcholish Madjid mendapatkan kesempatan untuk menikmati dua cabang pendidikan, yakni pendidikan model madrasah yang lebih banyak memberikan pelajaran agama, dan pendidikan umum, yang menggunakan metode pengajaran modern. Pada tingkat dasar inilah Nurcholish Madjid menjalani pendidikan di Madrasah al-Wthaniyah, yang dikelola orang tuanya sendiri, dan Sekolah Rakyat (SR) di Mojoanyar, Jombang. Selepas itu, Nurcholish Madjid melanjutkan pendidikannya pada Sekolah Menengah Pertama (SMP), di Jombang pula. (Siti Hadroh, 1998).

 

Nurcholish Madjid muda hidup di tengah keluarga yang lebih kental membicarakan politik. Selain keluarganya yang berasal dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) ayahnya, KH. Abdul Madjid, adalah salah seorang pemimpin partai politik Masyumi dan membentuk partai sendiri, ayahnya tetap bertahan di Masyumi (situshttp://www.tokohindonesia.com/majalah/09/nurcholis.shtml.diakses 21 juni 2009)

 

Pada usia 14 tahun, Nurcholish Madjid belajar ke Pesantren Darul-Ulum, Jombang. Bertahan selama dua tahun, karena banyak dicemooh oleh teman-temannya karena pendirian politik ayahnya yang banyak terlibat di Masyumi. Nurcholish kemudian dipindahkan ayahnya ke Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Menamatkan pendidikannya di Gontor pada 1960, dan sempat mengajar di almamaternya selama satu tahun lebih. Perpindahan pendidikan Nurcholish Madjid ke Gontor  cukup berpengaruh dalam mewarnai intelektualitas Nurcholish Madjid. Yakni tradisi yang memadukan dua kultur, liberal gaya modern Barat dengan tradisi islam klasik. Kedua kultur ini diwujudkan dalam system pengajaran maupun materi pelajaran. Literatur kitab kuning karya ulama klasik juga diajarkan di Gontor tetapi dengan system pengajaran yang modern, suatu system yang relative kurang dikenal dalam tradisi pesantren klasik pada umumnya. Pada tahun 1968, dalam kapasitasnya sebagai ketua umum PB HMI, Nurcholish Madjid berkunjung ke Amerika untuk memenuhi undangan program “ Profesional Muda dan Tokoh Masyarakat”, dari  pemerintah Amerika Serikat.

 

Pemikiran Nurcholish Madjid di era 1966-1968 yang cenderung mencurigai Barat melalui gagasan modernisasi dan westernisasi yang banyak diperkenalkan oleh intelektual “sekuler” pada awal orde baru memperoleh respons yang  negative dari Cak Nur. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa ia diundang untuk berkunjung ke Amerika pada masa itu. Kunjungan itu berlangsung selama lima pecan. Selepas lawatan itu, Nurcholish Madjid tidak langsung kembali ke tanah air melainkan singgah dan melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah ini sangat mempengaruhi warna pemikiran Nurcholish Madjid untuk kemudian menulsi Nilai Dasar Perjuangan (NDP), suatu dokumen organisasi yang kemudian dikenal sebagai ‘pegangan ideologis” HMI (Anas Urbaningrum, 2004). Pada tahun 1969, pulang dari lawatan pertamanya di Amerika Serikat dan beberapa Negara Timur Tengah inilah, kumpulan gagasan radikal Nurcholish yang merupakan pendapat dan pemikirannya mengenai pembaharuan di dalam Islam di syahkan menjadi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dalam kongres HMI di Malang. Sebelum Nurcholish Madjid menyusun NDP, sebetulnya ia telah menyusun semacam kertas kerja yang disampaikan pada seminar Garis Perjuangan HMI yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi (Badko)HMI Jawa Bagian Barat, bulan Februari 1968. Di dalam pertemuan ini, Nurcholish Madjid menyebutkan sebagai Nilai-Nilai Dasar Islam (NDI). Tetapi menurut Nurcholish Madjid rumusan itu hanya untuk menjawab persoalan-persoalan situasional saat itu. Juga kalau disebut NDI, berarti klaim HMI terhadap Islam dianggap terlalu besar, maka NDI diganti menjadi NDP. Pada sebuah acara Halal bi Halal dan Silaturahmi organisasi pemuda, pelajar dan mahasiswa Islam, yang terdiri dari undur Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Persatuan Sarjana Muslim Indonesia (Persami) dan Gerakan Pemuda Islam (GPI) pada tanggal 3 Januari 1970, Nurcholish Madjid yang melansir pemikirannya tentang sekulerisasi (Anas Urbaningrum 2004). Nurcholish Madjid yang bertindak sebagai pembicara tunggal dalam forum ini menyampaikan makalah dengan judul “ Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”, yang merupakan momen bagi Nurcholish Madjid dalam melontarkan gagasannya mengenai sekulerisasi dan anjurannya kepada kaum muslimin untuk membedakan mana yang sekulerisasi dan transcendental serta mana yang temporal.

 

Kota Baghdad


BEBERAPA FAKTOR UTAMA KEHANCURAN BAGHDAD

OLEH BANGSA MONGOL

 

KOTA BAGHDAD SEBELUM KEHANCURAN

 

Baghdad merupakan pusat pemerintahan dan peradaban pada masa Bani Abbasiyah. Ibu kota Negara pada awalnya adalah al-Hasyimiyah dekat kufah. Namun, pada masa khalifah al-Mansyur ibu kota Negara dipindahkan ke kota yang baru didirikannya yaitu kota Baghdad yang terletak di dekat ibu kota Persia, Ctesipon, pada tahun 762 M.

Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Sebagai pusat intelektual, di Baghdad terdapat beberapa pusat aktivitas pengembangan ilmu. Di antaranya adalah Baitul Hikmah, yaitu lembaga ilmu pengetahuan yang menjadi pusat pengkajian berbagai ilmu. Selain itu Baghdad juga sebagai pusat penterjemahan buku-buku dari berbagai cabang ilmu ke dalam bahasa Arab.[1]

Sebagai pusat ilmu pengetahuan dan peradaban, kehancuran Baghdad tentu memberikan dampak yang besar terhadap sejarah umat Islam. Jatuhnya kota Baghdad bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyah, tetapi juga merupakan awal dari kemunduran umat Islam. Ketika Baghdad hancur berbagai khazanah ilmu pengetahuan yang ada di sana juga ikut lenyap. Dikisahkan bahwa buku-buku yang ada dalam baitul hikmah dibakar dan di buang ke sungai Tigris sehingga airnya berubah yang asal mulanya jernih menjadi hitam karena tinta dari buku-buku tersebut.

Pokok Masalah

Dari uraian di atas dapat dirumuskan beberapa pokok masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana kekhalifahan Bani Abbasiyah sebelum dihancurkan Mongol?
  2. Siapa bangsa Mongol?
  3. Bagaimana bangsa mongol menghancurkan Baghdad?
  4. Apa dampak dari serangan Mongol terhadap Peradaban Islam?

 

Kota Baghdad adalah ibu kota Negara pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah. Pada masa kejayaannya, kota Baghdad menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Masa keemasan kota Baghdad terjadi pada masa khalifah ketiga, al-Mahdi, hingga khalifah kesembilan, al-Watsiq. Namun lebih khusus lagi pada masa Harun al-Rasyid dan al-Makmun anaknya.[2]

Khalifah al-Makmun membangun perpustakaan yang dipenuhi dengan ribuan buku ilmu pengetahuan. Perpustakaan tersebut dinamakan dengan Bait al-Hikmah. Selain itu, banyak berdiri akademi, sekolah tinggi, dan sekolah biasa. Dua di antaranya yang paling penting adalah perguruan Nizhamiyah dan Muntashiriyah.[3]

Bani Abbasiyah mulai mengalami kemunduran ketika pada masa periode kedua, yaitu dimulai ketika masa khalifah Al-Mutawakkil. Ada banyak hal yang menyebabkan kemunduran Bani Abbasiyah, di antaranya adalah :

 

  1. Lemahnya khalifah

Setelah kekuasaan Bani Saljuk berakhir, Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit menunjukkan kelemahan politiknya.

  1. Persaingan antar bangsa

 Selain fanatisme karaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu’ubiyah. Sementara itu, khalifah mengangkat budak-budak dari Persia dan Turki untuk menjadi tentara atau pegawai. Hal ini mempertinggi pengaruh mereka terhadap kekhalifahan. Ketika pada masa al-Mutawakkil, seorang khalifah yang dianggap lemah, kekuasaan dikendalikan oleh orang-orang Turki dan khalifah hanya dijadikan sebagai boneka.

 

Berikut ini detik-detik runtuhnya Khilafah Abbasiyah dan jatuhnya Baghdad seperti yang direkam oleh Ibnu Katsir:[4]

  1. “Runtuhnya Baghdad di tangan bangsa Mongol (Tatar) tidak lepas dari pengkhianatan yang dilakukan oleh wazir (perdana menteri) Muhammad bin al-Alqami, seorang penganut paham Syi’ah yang sangat dendam terhadap Ahlussunnah. Ia menjabat wazir (Perdana Menteri ) bagi Khalifah al-Musta’shim Billah, khalifah terakhir Bani Abbas di Iraq.
  2. Ini terjadi pada tanggal 12 Muharram 656 H. Hulaghu Khan, cucu Jengghis Khan mengepung Baghdad dengan seluruh bala tentaranya yang berjumlah lebih kurang 200.000 personil. Mereka mengepung istana Khalifah dan menghujaninya dengan anak panah dari segala penjuru, hingga menewaskan seorang budak wanita yang sedang menari di hadapan Khalifah untuk menghiburnya. Budak wanita itu adalah seorang selir yang bernama Arafah. Sebilah anak panah datang dari arah jendela menembus tubuhnya pada saat ia menari di hadapan Khalifah. Hal itu membuat cemas Khalifah dan ia amat terkejut. Pada anak panah yang menewaskan selirnya itu mereka dapati tulisan, “Jika Tuhan hendak melaksanakan ketentuan-Nya maka Dia akan melenyapkan akal waras orang yang berakal.” Setelah kejadian itu Khalifah memerintahkan agar memperketat keamanan.
  3. Pengkhianatan Ibnul al-Alqami yang begitu dendam terhadap Ahlusunnah ini disebbakan pada tahun sebelumnya (655 H) pecah peperangan hebat antara kaum Sunni dan Syi’ah yang berakhir dengan direbutnya Kota Al-Karkh yang merupakan pusat kaum Syi’ah Rafidhah, beberapa rumah milik sanak famili Ibnu al-Alqami sempat kena jarah.
  4. Sebelum runtuhnya Baghdad, Ibnul al-Alqami secara diam-diam mengurangi jumlah tentara, yaitu dengan memecat sebagian besar tentara dan mencoret mereka dari dinas kemiliteran. Sebelumnya, jumlah tentara pada masa kekhalifahan al-Mustanshir mencapai 100.000 personil. Jumlah ini terus dikurangi oleh Ibnu al-Alqami hingga menjadi 10.000 personil saja.
  5. Kemudian setelah itu, barulah ia mengirim surat rahasia kepada banga Mongol dan memprovokasi mereka untuk menyerang Baghdad. Dalam surat tersebut dia beberkan kelemahan angkatan bersenjata Daulah Abbasiyah. Ini merupakan salah satu sebab begitu mudahnya pasukan Mongol menguasai Baghdad.
  6. Semua itu dilakukan oleh Ibnu al-Alqami untuk melampiaskan dendam kesumatnya dan ambisinya untuk melenyapkan sunnah dan memunculkan bid’ah Syi’ah Rafidhah.

 

Akibat dari kemunduran dinasti Bani Abbasiyah ini, membuat mereka sangat rentan terhadap serangan dari luar. Lemahnya para khalifah dan tidak adanya persatuan di antara umat, mengakibatkan pertahanan negara mudah ditembus. Sehingga ketika Mongol menyerang Baghdad, mereka dapat dengan mudah menguasainya tanpa perlawanan yang berarti.

BANGSA MONGOL

Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan (Mongolia) yang membentang dari Asia Tengah sampai Siberia Utara, Tibet Selatan,  dan Mancuria Barat serta Turkistan Timur, bukannya bangsa  nomad stepa. Mereka merupakan salah satu anak rumpun dari bangsa Tartar. Nama Mongol diambil dari nama tempat asal mereka di Mongolia di mana mula-mula mereka tinggal. Sejarawan Cina beranggapan bahwa nama Mongol berasal dari bahasa Cina “Mong” (pemberani).[5] Badri Yatim mengutip dari Ahmad Syalabi menjelasakan bahwa nenek moyang bangsa Mongol bernama Alanja Khan, yang mempunyai dua putra kembar, Tartar dan Mongol. Mongol mempunyai anak bernama Il-khan, yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa Mongol dikemudian hari.[6]

 

KEHANCURAN KOTA BAGHDAD

Puncak kehancuran baghdad terjadi pada tahun 1258, kehancuran ibukota mengiringi hilangnya hegemoni arab dan berakhirnya sejarah kekhalifahan Dinasti Abbasiyah. Meskipun faktor eksternal, serbuan kaum barbar (dalam kasus ini, Mongol dan Tartar)- begitu dahsyat. Nyatanya Cuma berperan sebagai senjata pamungkas yang meruntuhkan kekhalifahan.[7] Faktor internal seperti banyak dijelaskan di bab awal lebih berperan sebagai sebab kehancuran.

 

 

Motif Serangan Mongol di Baghdad

1.   Faktor Politik

Pada tahun 615 H. sekitar 400 orang pedagang bangsa Tartar dibunuh atas persetujuan wali (gubernur) Utrar. Barang dagangan mereka dirampas dan dijual kepada saudagar Bukhara dan Samarkand dengan tuduhan mata-mata Mongol. Tentu saja hal ini menimbulkan kemarahan Jenghis Khan. Jenghis Khan mengirimkan pasukan kepada Sultan Khawarizmi untuk meminta agar wali Utrar diserahkan sebagai ganti rugi kepadanya. Utusan ini juga dibunuh oleh Khawarizmi Syah sehingga Jenghis Khan dengan pasukannya melakukan penyerangan terhadap wilayah Khawarizmi.

2.      Motif Ekonomi

Motif ini diperkuat oleh ucapan Jenghis Khan sendiri, bahwa penaklukan-penaklukan dilakukannya adalah semata-mata untuk memperbaiki nasib bangsanya, menambah penduduk yang masih sedikit, membantu orang-orang miskin dan yang belum berpakaian. Sementara di wilayah Islam rakyatnya makmur, sudah berperadaban maju, tetapi kekuatan militernya sudah rapuh.

Demikianlah analisis singkat tentang kehancuran Baghdad sebagai Ibukota Khalifah Abbasiyah. Puing – puing kemegahan kota Baghdad sebagai pusat kajian khazanah keilmuan dan peradaban Islam tinggal kenangan. Selain berakhirnya kekuasaan ke khalifahan Abbasiyah juga menandai mundurnya peradaban Islam dalam percaturan Internasional. Pemusnahan naskah – naskah, manuscript  dan karya para ilmuan tidak hanya hancurnya Baitul Hikma tetapi juga lenyapnya karya – karya monumental para ilmuan terdahulu. Hingga saat ini, ketimpangan pengetahuan begitu terasa ketika literasi- literasi karya ilmuan muslim begitu langkah bahkan bisa dikatakan punah.

 

 

Daftar Pustaka

 

Syamsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta: Amzah, 2010),

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008),

Philip. K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Selamat Riyadi (Jakarta: Serambi, 2005)

Majalah As-Sunnah Edisi 7 Tahun XV 1432 H/2011 M

M. Abdul Karim, Islam di Asia Tengah ( Yogyakarta: Bagaskara, 2006).


[1] Syamsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta: Amzah, 2010), hlm.147.

[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 281

[3] Philip. K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Selamat Riyadi (Jakarta: Serambi, 2005), hlm. 369.

[4] Majalah As-Sunnah Edisi 7 Tahun XV 1432 H/2011 M

[5] M. Abdul Karim, Islam di Asia Tengah ( Yogyakarta: Bagaskara, 2006), hlm.28.

[6] Badri Yatim, Sejarah, hlm.111

[7] Hitti. History. h. 616


Bingkai Pertanyaan?

Dalam Periodisasi Sejarah Islam

 

 

  1. Pengertian Babakan Waktu

Pembabakan waktu atau periodisasi adalah salah satu proses strukturisasi waktu dalam sejarah dengan  pembagian atas beberapa babk, zaman atau periode. Peristiwa-peristiwa nasa lampau yang begitu banyak dibagi-bagi dan dikelompokkan menurut sifat, unit, atau bentuk sehingga membentuk satu kesatuan waktu tertentu.

Pembagian babakan waktu merupakan inti cerita sejarah. Pembabakan atau periodisasi waktu adalah pembagian ats dasar pengelompokkan, babakan zaman dan waktu tertentu didalam cerita sejarah. Jadi babakan waktu dibagi atas beberapa babak, zaman atau beberapa periode. [1]

2.  Tujuan Babakan Waktu Adapun tujuan pembabakan waktu ialah;

a. Memudahkan pengertian

Gambaran peristiwa- peristiwa masa lampau yang sedemikian banyak itu dikelompok-kelompokkan. Disederhanakan dan diikhtisarkan menjadi satu tatanan (Orde). Sehingga memudahkan pengertian.

b. Melakukan penyederhanaan

Gerak pikiran dalam usaha untuk mengerti ialah melakukan penyederhanaan. Begitu banyaknya peristiwa-peristiwa sejarah yang beraneka ragam dan bersimpang siur itu sukar atau ruwet disusunnya menjadi sederhana, sehingga pikiran mendapatkan ikhtisar yang mudah diartikan. (Hugiono, et.al., 199:54).

c. Mengetahui peristiwa sejarah secara kronologis.

Menguraikan peristiwa sejarah secara kronologis akan memudahkan pemecahan dari masalah. Interpretasi serata analisis sejarah dan masalah pengukuran waktu. Ahli kronologi menerangkan berbagai tarikh, atau sistem penanggalan yang telah dipakai diberbagai tempat dan pada berbagai waktu serta memungkinkan kita untuk menterjemahkan penanggalan dari satu tarikh ke tarikh yang lain.

 d. Untuk memenuhi persyaratan sistematika ilmu pengetahuan.
Semua peristiwa-peristiwa masa lampau itu setelah dikelompokkan antara motivasi dan pengaruh peristiwa itu kemudian dikaitkan  lalu disusun secara teratur atau sistematis.

 e. Memudahkan klasifikasi dalam ilmu sejarah.

Klasifikasi dalam ilmu sejarah meletakkan dasar babakan waktu. Masa lalu  yang tidak terbatas peristiwa dan waktunya dipastikan isi bentuk dan waktunya menjadi bagian-bagian babakan waktu. (Hugiono, et.al., 199:55).[2]
          Klasikasi-klasifikasi diatas atas dasar keanekaragaman peristiwa. Babakan waktu merupakan cerminan pandangan hidup penyusun. Kepribadian penyusun tampak didalamnya. Dangkal, dalam, luas atau sempit pengetahuan penyusun tampak dari babakan waktu yang dibuatnya.
Dengan babakan waktu akan jelaslah kerangka cerita yang merupakan penjelmaan pandangan hidup dasar filsafat serata tafsiran sejarawan. Sebab tanpa penjelasan dan tafsiran, fakta-fakta masa lalu akn menjadi kronik,anal atau catatan-catatan peristiwa.

Ibnu Khaldun (1332-1406)
    Dalam bukunya “Mukaddimah Prolegomenah”, beliau menyusun pembabakan sejarah sebagai berikut:
a)    Zaman Nomade
b)    Zaman dimana tempat kediaman telah menetap
c)    Zaman puncak kebudayaan yang tinggi dan mulai menurun hingga sesudah mencapai waktu 200 tahun mulai yang baru lagi.[3]

Periodesasi Sejarah Islam.

Dinamika Islam di mulai dari periode awal kemunculannya sampai sekarang, telah tercatat dalam sejarah dunia. Berbagai peristiwa penting yang terjadi memberi warna bagi perkembangan kehidupan umat, khususnya dalam syiar Islam.

Sejarah perkembangan peradaban Islam dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. periode Klasik (650 – 1250 M),
  2. periode Pertengahan (1250 – 1800 M)
  3. dan periode Modern (1800 – sekarang).

Yang dimaksud abad pertengahan ialah tahapan sejarah umat Islam yang diawali sejak tahun-tahun terakhir keruntuhan Daulah Abbasiyah (1250 M ) sampai timbulnya benih-benih kebangkitan atau pembaharuan Islam yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 1800 M.Periode pertengahan ini juga terbagi menjadi dua bagian, yaitu masa kemunduran I (1250 – 1500 M) dan masa tiga kerajaan besar (1500-1800 M). B. MASA KEMUNDURAN I (1250 -1500 M.)[4]

Pada Tahun 570 M Nabi Muhammad SAW lahir di Mekah, sebuah kota yang amat penting dan terkenal di Semenanjung Arabia pada masa itu. Nabi Muhammad SAW berasal dari Bani Hasyim, kabilah yang paling mulia dalam suku Quraisy yang mendominasi masyarakat Arab. Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal dengan nama “Tahun Gajah”, karena bertepatan dengan datangnya pasukan gajah yang dipimpin Abrahah (gubernur kerajaan Habsyi di Yaman) menyerbu Mekah untuk menghancurkan Ka’bah dan memindahkan pusat kegamaan ini ke negerinya.

Ada sebagian pendapat sejarawan awal mula periodesasi dalam sejarah islam di mulai pada Tahun 622 M Karena perlakukan kaum Quraisy semakin kejam terhadap kaum muslimin di Mekah, maka Nabi SAW segera memerintahkan para sahabat dan pengikutnya untuk hijrah ke Yatsrib (yang kemudian disebut Madinaturrasul). Setelah Nabi SAW tiba dan diterima penduduk Madinah, Nabi SAW menjadi pemimpin kota itu. Ia meletakkan dasar-dasar kehidupan yang kokoh, antara lain dengan menetapkan Piagam Madinah bagi pembentukan suatu masyarakat baru yang biasa disebut “negara Madinah”. Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam semakin bertambah kuat.[5]

Karena Pada tahun 622 M ini pula tahun Hijriah ditetapkan penanggalan, awal zaman Islam. Awal tarikh Hijriah terhitung sejak Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah pada 622 M. Penetapan tahun Hijriah ditentukan belakang oleh Khalifah Umar pada 17 H/638 M dengan mendengar usulan para sahabat. Dari berbagai usulan yang muncul, Umar menerima usulan Ali bin Abi Thalib yang mengangkat peristiwa hijrah Nabi SAW dari Mekan ke Madinah sebagai awal tahun Islam. Alasannya, hijrah merupakan titik pemisah antara masa Mekah dan masa Madinah, dan merupakan momentum terbesar perjuangan Nabi SAW dalam menyebarkan Islam.

Kemudian pada tahun 624 M terjadinya puncak pertikaian antara kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy ditandai dengan perang pada 17 Ramadhan 2 H/624 M yang terjadi di Wadi Badar, 125 km selatan Madinah. Perang ini dikenal dengan nama Perang Badar.

Dilanjutkan pada tahun 625 M dengan meletusnya perang di Bukit Uhud dan disebut Perang Uhud. Perang ini disebabkan keinginan balas dendam kaum musyrikin Quraisy Mekah yang kalah dalam Perang Badar. Awalnya pasukan muslim berhasil membuat tentara Quraisy mundur, namun karena kelalaian pasukan muslim, terjadi serangan balik yang membuat pasukan Islam terjepit sehingga Hamzah bin Abdul Muthalib yang dijuluki “Singa Allah” terbunuh.

Dikalangan sejarawan terdapat perbedaan tentang saat dimulainya sejarah Islam. Secara umum, perbedaan pendapat itu dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, sebagian sejarawan berpendapat bahwa sejarah Islam dimulai sejak Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul. Oleh karena itu, menurut pendapat pertama ini, selama tiga belas tahun Nabi Muhammad tinggal di Mekah,telah lahir masyarakat Muslim meskipun belum berdaulat. Kedua, sebagian sejarawan berpendapat bahwa sejarah umat islam dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, karena masyarakat Muslim baru berdaulat ketika Nabi Muhammad Saw tinggal di Madinah. Nabi Muhammad tinggal di Madinah tidak hanya sebagai seorang rasul, tetapi juga sebagai pemimpin atau kepala Negara berdasarkan konstitusi yang disebut dalam Piagam Madinah.[6]

Disamping perbedaan mengenai awal sejarah umat Islam, sejarawan juga berbeda pendapat dalam menentukan fase-fase atau periodisasi sejarah Islam. Ada dua periodisasi sejarah Islam yang dibuat oleh sejarawan Indonesia, yaitu A. Hasymy[7] dan Harun Nasution[8]

 

 

Sumber Referensi

Hugiono,Drs, dan Poerwantana,Drs PK.1992. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Rineka Cipta.

Tamburaka,H. Rustam E. Prof. Drs., MA.1999. Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat & IPTEK. Jakarta:Rineka Cipta

Atang Abd Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam. PT. Remaja Rosdakarya Bandung, Edisi revisi tahun 2010

A Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang 1978

Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI-Press 1985

Ibnu Khaldun, Muqaddimah. Mesir: Mushtafa Muhammad

http://sejarahperkembangandandinamikaislamdidunia(dari570sampaisekarang)


[1] Tamburaka,H. Rustam E. Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat & IPTEK. Jakarta:Rineka Cipta 1999

[2] Hugiono, Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Rineka Cipta. et.al., 199:55

[3] Ibnu Khaldun, Muqaddimah. Mesir: Mushtafa Muhammad

[4] Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya di kutip dari Atang Abd Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam. PT. Remaja Rosdakarya Bandung. h. 137

[6] Atang Abd Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam. PT. Remaja Rosdakarya Bandung, Edisi revisi tahun 2010 h. 138

[7] A. Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang 1978

[8] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI-Press 1985

Menelusuri Jejak Islam di Seoul Central Mosque


Menelusuri Jejak Islam di Seoul Central Mosque

 

Penduduk Korea Selatan mayoritas beragama Budha, namun bukan berarti kita tidak dapat menemukan jejak-jejak Islam di negara ini. Temukan atmosfer kehidupan muslim di Seoul Central Mosque yang berada di Itaewon, Seoul, Korea Selatan. Masjid ini adalah masjid pertama dan satu-satunya di Seoul sekaligus masjid terbesar diKorea.

Seoul Central Mosque yang dibuka untuk pertama kalinya pada tanggal 5 Mei 1976 ini tepatnya berada di distrik Yongsan-gu. Selain menjadi pusat agama Islam, masjid ini juga merupakan kebanggaan lebih dari 45 ribu masyarakat Korea asli yang memeluk Islam sejak lama. Masjid ini dalam bahasa Arab bernama Masjid Si’ul Al Markaz, namun petunjuk jalan yang dibuat oleh pemerintah setempat menuliskannya dengan bahasa Inggis yakni Seoul Central Mosque. Arsitekturnya yang khas membuat wisatawan akan dengan mudah mengenali masjid ini. Di pintu utama terdapat tulisan “Allahu Akbar” menggunakan huruf Arab yang cukup besar. Bagi masyarakat setempat dan pemeluk non muslim, masjid ini merupakan titik destinasi wisata karena keindahan arsitekturnya. Apalagi Seoul Central Mosque ini terletak antara Namsan danHanRiver.

Bangunan yang terdiri dari 3 lantai ini umumnya memiliki tempat terpisah untuk wanita dan pria. Masjid ini tidak hanya menyediakan tempat untuk sholat berjamaah namun juga terdapat beberapa ruangan lain seperti kantor, ruang kelas, ruang rapat dan ruang konferensi. Bahkan ada penginapan yang sering dipakai para pekerja asing untuk menginap. Perluasan bangunan ini dilakukan pada tahun 1991 setelah pengelola setempat mendapatkan sumbangan dari pemerintah Arab Saudi sebesar 3,5 miliar Won.

Seperti layaknya masjid yang berdiri di negara berpenduduk non-muslim, Anda yang menyempatkan datang akan melihat bahwa masjid ini didatangi oleh orang-orang yang berasal dari latar belakang negara yang berbeda. Seperti Mesir, Libya, Suria, Sudan, Pakistan, Bangladesh, Turki dan tentu saja Indonesia. Mereka pada umumnya adalah para pekerja asing yang mengadu nasib di Korea Selatan. Ada juga penduduk asli keturunan para mualaf yang masuk ke Korea saat Perang Korea. Pada saat bulan Ramadhan, masjid ini akan semakin ramai oleh kegiatan keagamaan dan acara buka serta sahur bersama. Sama seperti di Indonesia, pengelola masjid juga menyediakan hidangan untuk para jamaah. Jadi Anda tak perlu ketakutan kelaparan jika mengunjungji Seoul Central Mosque saat bulan puasa.

Masjid ini juga menjadi jujugan para wisatawan yang ingin menunaikan sholat Jumat. Setiap hari Jumat paling tidak ada 800 jemaah yang melaksanakan sholat. Menyadari bahwa jamaah sholat Jumat di masjid ini berasal dari berbagai negara, maka khutbah Jumat akan diberikan dalam 2 bahasa sekaligus yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris. Nah, Jika Anda datang jauh sebelum sholat Jumat dilaksanakan, Anda bisa berjalan-jalan mengitari kawasan ini yang dipenuhi toko-toko penjual pernik-pernik umat muslim seperti buku, CD dan perangkat sholat yang kebanyakan dijual oleh warga Pakistan. Daerah ini juga menyediakan Iteawon Night Market yang terletak di dekat kawasan masjid. Pasar yang dibuka pada malam hari ini menyediakan berbagai barang, baju dan asesoris seperti kaus kaki, anting-anting, gelang, kalung dan beberapa fashionitemlainnya.

Uniknya, lokasi Seoul Central Mosque ini berada di dekat basis militer AS di Korea Selatan. Jadi jangan heran jika Anda akan melihat sekelompok tentara Amerika hilir mudik di kawasan ini.