PEMIKIRAN MUHAMMAD ARKOUN TERHADAP AL-QUR’AN


FILSAFAT MODERN

 

Kajian Pemikiran

(Filsafat Perenial, Filsafat Hermeneutika, dan Kritis Islamologi Muhammad Arkoun)

                                                Oleh : Teddy Khumaedi S.Sos

                                                NIM :  2.211.1.11.003

 

  1. A.   Pendahuluan

Periode sejarah yang lazim disebut “modern” mempunyai banyak perbedaan pandangan tentang jiwa dengan periode pertengahan. Ada dua hal terpenting yang menandai sejarah modern, yakni runtuhnya otoritas gereja dan menguatnya otoritas sains. Dua hal inilah yang pada dasarnya menjelaskan lain-lainnya. Kebudayaan modern kurang bernuansa gerejawi. Negara-negara semakin menggantikan gereja sebagai otoritas politik yang mengontrol kebudayaan. Mula-mula, kekuasaan bangsa-bangsa utamanya berada di tangan raja, kemudian seperti di Negara yunani kuno raja-raja secara perlahan digantikan oleh demokrasi atau para tiran. Kekuasaan Negara-negara dan fungsi-fungsi yang diperankannya terus berkembang di sepanjang periode sejarah modern artinya secara keseluruhan pengaruh Negara terhadap pemikiran-pemikiran para filosof lebih kecil dibandingkan pengaruh gereja pada abad pertengahan, Aristokrasi feudal.

 

 

 

  1. B.   Pembahasan

Menurut pandangan para filosof, ada satu wilayah yang menikmati keistimewaan khusus di antara wilayah filsafat yang banyak itu. Wilayah itu disebut filsafat pertama, filsafat tinggi, sains tertinggi, sains universal, teologi, atau metafisika. Para filosof masa lalu percaya bahwa salah satu sifat yang membedakan sains ini dengan semua sains yang lain ialah dasarnya yang lebih kuat pada demonstrasi (burhan)dan kepastian. Ciri yang lain adalah bahwa sains tersebut memimpin semua sains yang lain. Ciri ketiga yang membedakan adalah bahwa filsafat lebih umum dan universal dibanding dengan sains yang lain.[1] Oleh karena itu, pandangan para filosof masa lalu, kata “ filsafat” mempunyai dua arti : pertama,pengertian umum dari pengetahuan rasional sebagaimana adanya,meliputi semua sains kecuali ilmu yang diperoleh pmelalui pewahyuan. Kedua,pengertian lain yang agak jarang dipakai, yaitu  teologi atau filsafat pertama, salah satu dari tiga bagian filsafat teoritis. Terdapat dua kemungkinan jika kita memilih untuk mendefiniskan filsafat menurut penggunaan para filosof kuno. Pertama, jika mengambil pemakain yang umum, karena dalam hal ini filsafat merupakan suatu istilah generik yang tidak dilekatkan pada suatu sains atau disiplin khusus.pengertian ini sesuai  dengan konsepsi umum filsafat yaitu, “ filsafat adalah penyempurnaan jiwa manusia, baik dari sudut teoritis maupun praktis”. Kedua, jika kita mengambil pemakaian yang lebih jarang digunakan, yang mendefiniskan filsafat sebagai aktivitas yang dinamai oleh filososf di masa lalu sebagai filsafat sejati, filsafat pertama, atau filsafat tertinggi, berarti kita menetapkan definisi yang khas bagi filsafat. Oleh karena itu, jawaban atau pertanyan “ Apakah filsafat itu?” akan berbunyi, “ filsafat meliputi semua jenis sains tenteng keadaan-keadaan wujud, dipandang Dari segi bahwa ia adalah wujud, bukan dari segi bahwa ia memiliki individuasi khusus. Titik penting yang membedakan filsafat modern dan filsafat kuno dimulai pada abad ke-16 masehi, adalah digantikannya metode silogistik dan rasional dalam ilmu pengtahuan (sains) oleh metode empiris dan eksperimental, sebuah perubahan yang dicanangkan oleh sekelompok orang terkenal, antara lain. Descartes dari Prancis dan Bacon dari Inggris. Bangunan ilmu pengetahuan alam memisahkan diri dari wilayah penalaran silogistik dan memasuki wilayah metode eksperimen, sedangkan matematika mengambil karakter semisligostik dan semieksperimental. Filsafat bersifat generic, tidak spesifik, dalam arti bahwa filsafat bukanlah nama sebuah ilmu, melainkan meliputi beberapa ilmu. Namun dalam pengertian ini memiliki cakupan yang lebih sempit dibandingkan dengan pengertiannya pada masa kuno sedangkan filsafat dalam pengertian modern meliputi  metafisika, etika, logika, hukum, dan mungkin beberapa bidang lain.

  1. 1.      Filsafat Perennial

Perennial berasal dari bahasa Latin, perennis, yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Inggris, berarti kekal, selama-lamanya, atau abadi. Istilah perennial biasanya muncul dalam wacana filsafat agama di mana agenda yang dibicarakan adalah, pertama, tentang Tuhan, wujud yang absolute, sumber dari segala wujud. Tuhan Yang Maha Besar adalah satu, sehingga semua agama yang muncul dari Yang satu, pada prinsipnya sama karena datang dari Sumber yang sama. Kedua, filsafat perennial ingin membahas fenomena pluralism agama secara kritis dan kontemplatif. Ketiga, filsafat perennial berusaha menelusuri akar-akar kesadaran religiusitas seseorang atau kelompok melalui symbol-simbol, ritus serta pengalaman keberagaman. Dengan begitu secara metodologis filsafat perennial berhutang pada apa yang disebut sebagai transcendental psychology.

Istilah filsafat perennial diduga untuk pertama kali digunakan di dunia barat oleh seorang bernama Augustinus Steuchus (1497-1548) sebagai judul karyanya, De perennial philosophia, yang diterbitkan pada 1540.  Istilah tersebut kemudian dipopulerkan oleh Leibnitz dalam sepucuk suratnya yang ditulis pada 1715, yang menegaskan bahwa dalam membicarakan tentang pencarian jejak-jejak kebenaran di kalangan para filosof kuno dan tenteng permisahan yang terang dari yang gelap, sebenarnya itulah yang dimaksud dengan filsafat perennial.[2]

  1. 2.      Filsafat Hermeunetika

Istilah hermeneutika pada dasarnya, secara tradisional, sering disandarkan dengan Hermes, seorang tokoh dalam mitos Yunani yang bertugas sebagai mediator antara Zeus dengan manusia. Sebagai mediator diartikan sebagai penyampai pesan Zeus untuk manusia. Sehingga Hermes sendiri mengalami kebingungan yaitu bagaimana bahasa langit itu dapat dipahami dengan bahasa bumi. Sehingga Hermes memberanikan diri untuk meng-eksegesis pesan tersebut menjelma menjadi sebuah teks suci. Kata teks di atas dalam artian etimologi adalah tenunan atan pintalan. Sehingga kaitannya dengan Hermes adalah hal yang ia pintal adalah gagasan dan kata-kata Zeus (bahasa langit) menjadi sebuah narasi dalam bahasa manusia.[3]

Definisi Hermeneutika

Kata hermeneutika berasal dari kata Yunani: hermeneuein yang diartikan sebagai: menafsirkan dari kata bendanya hermeneia artinya tafsiran. Hermeneuein sendiri mengandung tiga makna yaitu: (1) to say (mengatakan); (2) to explain (menjelaskan); dan (3) to translate ( menerjemahkan). Yang kemudian ketiga makna ini diserap ke bahasa Inggris menjadi to interpret. Otomatis kegiatan interpretasi menunjukkan pula pada tiga hal pokok yakni: (1) an oral recitation (pengucapan lisan); (2) a reasonable explanation (penjelasan yang masuk akal); dan (3) a translation from another language (terjemahan dari bahasa lain/mengekspresikan).[4]

Secara istilah hermeneutika dipahami sebagai suatu seni dari ilmu menafsirkan khususnya tulisan berkewenangan, terutama berkenaan dengan kitab suci dan sebanding dengan tafsir. Atau sebuah filsafat yang bidang kajiannya memusatkan pada bidang persoalan understanding to understanding terhadap teks yang ekstra linguistik atau secara dialektis non-Platonik. Sehingga ada dua poin penting yang dapat dideskripsikan yaitu: (1) permasalahan filsafat adalah pada bahasa dalam artian sempitnya, yaitu bentuk semantik tertentu dalam artian transposisi suatu nama atau istilah; (2) bahasa adalah kondisi dasar antropologis, sehingga wacana filsafatpun pada dasarnya metavoris intensive.

Dalam perkembangan selanjutnya, hermeneutika dibahas menjadi tiga yaitu: hermeneutika sebagai metodologi; filsafat; dan kritik. Sementara pemikirannya dibagi menjadi enam pembahasan yaitu: sebagai eksegesis bible; metode filologi; sebagai pemahaman linguistic, sebagai fondasi geisteswissenschaft; sebagai fenomenologi dasein; dan sebagai system interpretasi, lain halnya pada masa sekarang. Filsafat di jaman Post-modern ini dapat dikatakan sedang mengalami linguistic turn atau pembalikan ke arah bahasa. Dikatakan demikian sebab kata kunci filsafat tradisional adalah akal-roh, pengalaman dan kesadaran tetapi kini adalah bahasa.

Linguistic turn sendiri, menurut beberapa pendapat pemikir adalah bertolak dari tiga permasalahan pokok dalam filsafat post-modern, yaitu: Pertama, isu tentang berakhirnya filsafat setelah muncul dekonstruksi, atau jika dalam Islam, hal ini dapat dikonotasikan dengan isu atau kepastian tertutupnya pintu ijtihad, yang pada dasarnya permasalahan ini berpusat pada paradoks referensi diri, pada ambiguitas konsep tentang argumentasi dan pada buramnya batas antara bahasa filsafat dan bahasa sastera; Kedua, rasionalitas dan pluralitas yang pada dasarnya menunjuk pada hermeneutika teks ataupun hermeneutika permainan bahasa. Sedangkan Ketiga, yakni tumbangnya epistimologi adalah suatu kesia-siaan vocabulari abad ke 17. pada hemeneutika atas sang Ada melalui bahasa, dan pada perkara model linguistik yang dipaksaan atas kenyataan. Ketiga permasalahan tersebut di atas, secara ringkas dapat dikatakan adalah permasalahan logika, bentuk kehidupan plural dan metafor. Yang jika dilihat secara historis hal ini dapat berjalan bersesuaian dengan perkembangan persoalan bahasa itu sendiri dalam dunia filsafat barat umumnya.

 

  1. 3.    Kritis Islamologi Muhammad Arkoun

Muhammad Arkoun adalah penerus dari usaha Arthur Jeffery dalam  mendekontruksi  Al-Quran. Arkoun dalam melakukan serangan terhadap  otensitas al-Quran menggunakan dua konsep yaitu konsep dekonstruksi dan  konsep historitas.[5]

Konsep Dekonstruksi

Muhammad Arkoun mengklaim bahwa strategi dekonstruksi yang ia tawarkan sebagai  sebuah strategi terbaik karena strategi ini akan membongkar dan menggerogoti  sumber-sumber Muslim tradisional yang mensucikan “kitab suci”. Strategi ini  berawal dari pendapatnya bahwa sejarah al-Quran sehingga bisa menjadi kitab  suci dan otentik perlu dilacak kembali. Dan ia mengklaim bahwa strateginya  itu merupakan sebuah ijtihad. Dengan Ijtihadnya ini Arkoun menyadari bahwa pendekatannya ini akan  menantang segala bentuk penafsiran ulama terdahulu, namun ia justru percaya  bahwa pendekatan tersebut akan memberikan akibat yang baik terhadap  al-Quran. Dan menurutnya juga, pendekatan ini akan memperkaya sejarah pemikiran dan memberikan sebuah pemahaman yang lebih baik tentang al-Quran,  dengan alasan karena metode ini akan membongkar konsep al-Quran yang selama  ini telah ada. Berdasarkan pendekatan tersebut Arkoun membagi sejarah al-Quran menjadi dua  peringkat : peringkat pertama disebut sebagai Ummul Kitab, dan peringkat  kedua adalah berbagai kitab termasuk Bible dan al-Quran. Pada peringkat  pertama wahyu bersifat abadi, namun kebenarannya di luar jangkauan manusia,  karena wahyu ini tersimpan dalam Lauh al-Mahfudz. Wahyu (Preserved Tablet)  dan berada di sisi Tuhan, dan yang bisa diketahui manusia hanya pada  peringkat kedua yang diistilahkan oleh Arkoun sebagai “al-Quran edisi dunia”  (editions terrestres) namun menurutnya al-Quran pada peringkat ini telah  mengalami modifikasi dan revisi dan subsitusi.

 Konsep Historitas

Dan tentang konsep historitas, Arkoun mengatakan “bahwa pendekatan historisitas, sekalipun berasal dari Barat, namun tidak hanya sesuai untuk  warisan budaya Barat saja. Pendekatan tersebut dapat diterapkan pada semua  sejarah umat manusia dan bahkan tidak ada jalan lain dalam menafsirkan wahyu  kecuali menghubungkannya dengan konteks historis.”

Arkoun juga menyatakan bahwa Strategi terbaik untuk memahami historisitas  keberadaan umat manusia ialah dengan melepaskan pengaruh idiologis. Sehingga  menurutnya, metodologi multidisiplin dari ilmu sejarah, sosiologi,  antropologis, psikologis, bahasa, semiotik harus digunakan untuk mempelajari  sejarah dan budaya Islam. Jika strategi ini digunakan, maka umat Islam bukan  saja akan memahami secara lebih jelas masa lalu dan keadaan mereka saat ini  untuk kesuksesan mereka di masa yang akan datang, namun juga akan menyumbang  kepada ilmu pengetahuan modern.

Mohammed Arkoun adalah orang yang secara tuntas mencoba menggunakan  hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur’an. Untuk kepentingan analisisnya,  Arkoun meminjam teori hermeneutika dari Paul Ricour, dengan memperkenalkan  tiga level tingkatan wahyu. Pertama Wahyu sebagai firman Allah yang tak terbatas dan tidak diketahui  oleh manusia, yaitu wahyu al-Lauh Mahfudz dan Umm al-Kitab.   Kedua, Wahyu yang nampak dalam proses sejarah. Berkenaan dengan Al-Qur’an,  hal ini menunjuk pada realitas Firman Allah sebagaimana diturunkan dalam  bahasa Arab kepada Nabi Muhammad selama kurang lebih dua puluh tahun.

Ketiga, Wahyu sebagaimana tertulis dalam Mushaf dengan huruf dan berbagai  macam tanda yang ada di dalamnya. Ini menunjuk pada al-Mushaf al-Usmani yang  dipakai orang-orang Islam hingga hari ini. [6]

Mohammed Arkoun membedakan antara periode pertama dan periode kedua.  Menurut Arkoun, dalam periode diskursus kenabian, al-Qur’an lebih suci,  lebih autentik, dan lebih dapat dipercaya dibanding ketika dalam bentuk  tertulis. Sebabnya, al-Qur’an terbuka untuk semua arti ketika dalam bentuk lisan, tidak seperti dalam bentuk tulisan. Arkoun berpendapat status  al-Qur’an dalam bentuk tulisan telah berkurang dari kitab yang diwahyukan  menjadi sebuah buku biasa. Arkoun berpendapat bahwa Mushaf itu tidak layak  untuk mendapatkan status kesucian. Tetapi muslim ortodoks meninggikan korpus ini ke dalam sebuah status sebagai firman Tuhan. Dua konsep pemikiran Mohammed Arkoun yang liberal di atas yaitu dekonstruksi dan historitas telah membuat paradigma baru tentang hakikat  teks al-Qur’an. Pendekatan historisitas Mohammed Arkoun justru  menggiring­nya untuk menyimpulkan sesuatu yang historis, yaitu kebenaran wahyu hanya ada pada level di luar jangkauan manusia. Mohammed Arkoun  mengakui kebenaran Umm al-Kitab, hanya ada pada Tuhan sendiri. Ia juga  mengakui .kebenaran dan kredibilitas bentuk lisan AI-Qur’an, tetapi bentuk  itu sudah hilang selama-lamanya dan tidak mungkin ditemukan kembali. Dan  bisa kita simpulkan bahwa pendekatan historisitas yang diterapkan Arkoun  justru menggiringnya kepada sesuatu yang tidak historis. Sesuatu yang tidak  mungkin dicapai kebenarannya oleh kaum Muslimin. Padahal, sepanjang zaman  fakta historis menunjukkan, kaum Muslimin dari sejak dulu, sekarang dan akan  datang, meyakini kebenaran al-Qur’an Mushaf `Uthmani.

Menurut Arkoun ketika memasuki abad ke-13, umat Islam mulai melupakan filsafat maupun debat teologi. Selama ini, umat Islam diajar bahwa Islam tidak memisahkan agama dan politik, bahwa Islam adalah daulah (kerajaan). “Sebagai seorang ahli sejarah pemikiran Islam, bukan sebagai seorang politisi, saya katakan bahwa itu keliru,” kata Arkoun. Dalam Islam klasik, kata Arkoun, ketika debat didasarkan pada pendekatan keragaman budaya, keragaman pemikiran, dan keragaman teologi, terjadi perdebatan yang seru bagaimana menginterpretasikan Alquran dan mengelaborasi dengan hukum yang didasarkan pada teks suci. Dengan tetap mempertahankan pluralisme, seseorang akan tetap menjadi kritis, baik dalam filsafat maupun teologi. Pluralisme inilah yang hilang dalam Islam, kata Arkoun. Islam dalam teologi harus mempertahankan kebebasan bagi setiap muslim untuk berpartisipasi dalam ijtihad. Pemahaman ini penting untuk membangun demokrasi di negara-negara Islam dan untuk memulihkan kembali kebebasan berpikir dalam Islam.

Menurut Arkoun, umat Islam bisa membandingkan dengan agama Kristen secara teologis dan agama Katolik secara politik. Sampai revolusi Perancis, tidak ada legitimasi politik yang tidak dikontrol oleh Gereja Katolik. Teologi Protestan merupakan teologi modern, karena setiap orang mempunyai hak untuk mempelajari kitab suci. Sebenarnya, umat Islam menemukan periode yang bisa memberikan harapan besar akan munculnya kembali keragaman dalam berpikir pada saat munculnya negara-negara baru pascakolonial. Namun, sayang, kesempatan itu hilang. Islam kemudian dipergunakan lebih sebagai alat politik, bukan untuk berpikir dengan pendekatan humanis dan dalam keragaman. Arkoun berpendapat, pemulihan pengajaran sejarah akan memungkinkan Eropa dan Islam membangun dan bekerja sama atas dasar filsafat dan nilai-nilai yang sama, di mana membangun demokrasi tidak hanya berlandaskan pada negara-bangsa, tetapi pada manusia. Menurut dia, munculnya Uni Eropa merupakan sebuah lompatan sejarah. Ada sebuah ruang baru kewarganegaraan dengan membuka kesempatan manusia dari seluruh belahan bumi untuk mendapatkan kewarganegaraan. Ada sebuah gaya baru pemerintahan yang berdiri diatas bangsa. “Ini revolusi dalam level politik,” kata Arkoun seraya menambahkan bahwa model ini bisa diadopsi oleh negara-negara muslim dan bertemu dengan pengalaman Eropa dalam perspektif humanisme. Arkoun juga menekankan pentingnya pendidikan yang didasarkan pada humanisme. Dalam kaitan itu, di sekolah-sekolah menengah perlu diajarkan multibahasa asing, sejarah ,dan antropologi, serta perbandingan sejarah dan antropologi agama-agama. “Marilah kita terbuka pada semua kebudayaan dan terbuka pada semua pemikiran,” ujarnya.[7]

  1. 4.    Kesimpulan

Aristoteles mengatakan bahwa setiap awalan memang merupakan pembatasan. Dengan menuntut transformasi tertentu dalam cara kita memandang kenyataan.

Filsafat Hermeneutika, merupakan salah satu aliran dalam Post-modern, yang menghidupkan kembali (awal baru) terhadap klaim berakhirnya filsafat. Melalui bahasa secara implisit-eksplisit, interlinguistic-ekstralinguistic yang menunjuk pada kondisi dasar antropologi manusia yang bersifat tensive terhadap filsafat, rasionalitas dan kebenaran melaui metaforis, retorika dan imajinasi.

Dengan analogi ulat dan kupu-kupu. Kupu-kupu memang berasal dari ulat namun kupu-kupu bisa terbang sementara ulat tidak. Filsafat betapapun juga memiliki kemampuan untuk menjelaskan kenyataan lebih daripada metafor. Tetapi metafor dengan imaji-imaji bebasnya dapat menjadi sumber inspirasi tak habis untuk berpikir lebih jauh lagi. Kenyataan bahwa bahkan dalam bahasanya pun filsafat nyatanya sulit melepaskan diri dari metafor, hanyalah menunjukkan bahwa dalam kenyataannya pencarian kejernihan konsep memang senantiasa bersitegang dengan upaya untuk memelihara dinamika makna. Bahasa memang bersifat tensive dalam tegangan antara pembatasan perspektif dan keterbukaan, antara penggambaran dan penjelasan, antara ketepatan logis dan resonansi efektif psikologis.

Filsafat dengan bahasanya yang tensive itu lalu memang jadi sulit untuk diverifikasi maupun ditumbangkan secara tegas. Status ilmiahnya mau tak mau adalah hipotesis saja yang juga berguna untuk memperluas dan mengorganisasikan pemahaman kita tentang manusia, dunia dan kehidupan itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Al sya’rani, Abd Wahhab. 2003. Beranda Sang Sufi: Jejak Langkah Para Arif Sejak Sahabat Sampai Ulama Fiqh. Terj: Masyah, Hade. Jakarta: Hikmah

Bleicher, Josef. 2003. Hermeneutika Kontemporer: Hermeneutika Sebagai Metode, Filsafat dan Kritik. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Muslih, Muhammad. 2006. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Belukar.

Polmer, Richard. 2005. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sugiharto, Bambang. 1996. Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius

Hidayat, Komarudin. Wahyuin Nafis. Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Parennial, Kompas Gramedia 2009

http://www.filsafatpemikiranmuhammadarkoun.com

 


[1]. Komarudin Hidayat, wahyuni Nafis. Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Parennial, Kompas Gramedia h. 23

[2]  Komarudin Hidayat, wahyuni Nafis. Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Parennial, Kompas Gramedia h. 15–16

[3] Polmer, Richard. 2005. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar  h. 34

 

[4] Polmer, Richard. 2005. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. h. 40

 

[5] . Sugiharto, Bambang. 1996. Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius h. 43-48

 

2 thoughts on “PEMIKIRAN MUHAMMAD ARKOUN TERHADAP AL-QUR’AN

  1. Ilmu tafsir menurut Al Zarkasyi adalah ilmu untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada nabinya muhammad saw dan untuk mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya.

    bisa bantu ngak tafsir yang menurut zarkasi tsb diatas di tulis dengan bahasa arab lengkap dengan patha dan dommahnya tidak gundul

    1. apa yang saya tulis di sini,,berdasar apa yang saya dapatkan dalam pembacaan saya dar beberapa buku,,bukan berarti itu pendapat mutlak saya,,,,manusia selayaknya selalu berbagi dalam ilmu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s