JEJAK ISLAM KLASIK DI ASIA SELATAN


JEJAK ISLAM KLASIK DI ASIA SELATAN

SEBUAH KAJIAN STUDI KAWASAN ISLAM

DALAM SEJARAH DUNIA

Oleh

Teddy Khumaedi

NIM : 2.211.11.1.003

 

Abstraksi

Islam sebagai agama rohmatan lil’alamin yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw mengandung sebuah misi dakwah yang harus disebarkan kepada seluruh manusia. Ini terbukti dengan adanya sebuah peradaban dan sejarah yang cemerlang dimasa lalu. Kita dapat melihat bagaimana perjuangan Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya dalam melakukan ekspansi atau perluasan wilayah yang begitu hebat dalam penyebaran agama islam, sehingga peradaban Islam dimasa lalu sangat maju dan pesat. Islam datang ke Asia selatan sejak zaman Nabi Muhammad Saw, yang dibawa oleh para pedagang arab melalui sejumlah pelabuhan besar yang ada di India, Sehingga terjadi interaksi antara para pedagang arab dengan masyarakat India. Oleh karena itu perdagangan yang dibawa oleh orang arab dan dakwah menyatu dalam satu kegiatan sehingga ada salah satu raja yaitu raja Kadangalur dan Cheraman pertama masuk Islam dan diganti namanya menjadi Tajudin. Setelah Nabi Muhammad wafatpun penyebaran Islam di wilayah ini masih terus berlanjut, ini terbukti pada zaman Umar Bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib mengirim utusan untuk mempelajari adat istiadat dan jalan yang menuju ke Asia Selatan khususnya di India.

Keyword         : Islam klasik, ekspansi, peradaban

 

Pendahuluan

Diantara perluasan wilayah yang pernah ditaklukan dan diislamisasikan oleh islam adalah kawasan Asia Selatan, Negara-negara yang termasuk kedalam kawasan ini adalah  India, Pakistan, Banglades, Srilangka, dan Maladewa. Islam diperkenalkan diwilayah ini dalam bentuk sebuah peradaban yang telah berkembang yang diwarnai dengan budaya pertanian, perdagangan dan keagamaan yang terorganisir secara mapan. Islam bukan kekuatan pertama yang dapat menguasai kawasan ini, tetapi dengan masuk dan berkuasanya islam diwilayah tersebut selama tiga abad lamanya, ternyata islam mampu memberikan kontribusi bagi kebudayaan setempat. Karena wilayah ini terdiri dari berbagai macam ras, keturunan, dan golongan sehingga mengakibatkan wilayah ini mudah untuk dikuasai oleh kekuatan dari luar.[1]

Pembahasan

  1. A.    Asal-Usul Negara India,

India, Negeri yang penuh pertentangan. Punya kesatuan geografis yang fundamental, tetapi tak pernah mengenal kesatuan politik yang riil, kecuali yang baru-baru ini dipaksakan oleh Inggris. Penuh dengan berbagai golongan, menyebabkan tidak mampu menolak serangan-serangan. Penuh oleh ragam ras yang terpisah dan bermusuhan dengan berbagai perbedaan kepercayaan, bahasa dan kebudayaan. Nama India itu merupakan nama baru yang disebut dalam ejaan orang barat. Aslinya adalah Hind, terambil dari nama sungai Shindu, salah satu sunga yang di India, dari kata tersebut kemudian menjadi Hindustan. Nama India juga berasal dari kata Sindh, yang diambil dari nama penguasa dahulu di India yaitu anak Nabi Nuh, yang menguasai lebih besar dibanding dengan saudaranya yang lain yaitu Hind dan Bang. Kata Sindh sama artinya dengan Bharata. Beratus tahun sebelum Nabi Isa lahir, India menempati kedudukan yang tinggi dalam tammadun dunia, terutama dalam soal-soal keagamaan dan metafisik. Dari sanalah muncul agama Brahmana yang terkenal. Dari sana pula timbul Budha Gautama. Bahkan telah diselidiki bekas tammadun dari 5000 tahun yang lalu dengan penggalian sisa-sisa negeri yang bernama Mohendro-Daro dan Harapa. Dari bekas-bekas runtuhan kota lama itu telah didapati orang dengan kepandaian penduduknya dalam seni bangunan, sudah mengenal tulisan, serta sudah mengenal mata uang. Kemudian, jika dilihat hubungannya dengan Arab, kemungkinan besar dengan kemajuan yang demikian rupa tinggi di India, niscaya telah lama hubungannya dengan bangsa Arab, walaupun sebelum Islam. Dengan bukti adanya semacam pedang yang terpuji buatannya di tanah Arab di zaman dahulu yaitu “ Saif Muhannad “, artinya pedang yang ditempa secara Hind. Malahan disangka orang bahwa perkataan “ Handasah “ artinya ilmu ukur terambil dari kata-kata “ Hindu “ juga.  

Pada tahun 1940, partai liga muslim India membentuk kesepakatan yang isinya adalah bahwa wilayah-wilayah yang penduduknya mayoritas beragama islam seperti zona barat laut dan timur India, harus disatukan sebagai satu Negara yang merdeka. Persatuan wilayah-wilayah tersebut kemudian disebut Negara Pakistan.

  1. B.     Negara Pakistan (1947 M)

Islam datang ke Negara Pakistan sebelum Negara ini memisahkan dari Negara India, Islam tiba di daerah sekarang dikenal sebagai Pakistan pada tahun 711 Masehi, ketika Bani Umayyah mengirimkan dinasti muslim Arab yang dipimpin oleh seorang panglima tentara yaitu Muhammad Ibnu Qasim melawan penguasa Sindh, Raja Dahir. Hal ini disebabkan karena fakta bahwa Raja Dahir telah memberikan perlindungan kepada banyak Zoroastrian Princes yang melarikan diri penaklukan Islam Iran. Pengalaman Pakistan mengenai interaksi agama dan politik adalah sangat unik karena secara integral berhubungan dengan gagasan tanah air yang terpisah bagi umat islam India yang muncul pada akhir tahun 1930-an.[2]

Sejak itulah, awal berdirinya Negara Pakistan pada tahun 1947, perkembangan politiknya bagaimanapun dipengaruhi oleh islam dan mungkin tetap seperti itu dimasa depan. Pakistan adalah sebuah negara yang didirikan bagi umat Islam, diproklamirkan pada tanggal 14 Agustus 1947. Kelahiran negara ini merupakan buah perjuangan umat Islam yang panjang di India untuk melepaskan diri dari dominasi mayoritas umat Hindu. Negara Pakistan yang diimpikan para arsiteknya adalah sebuah negara ideologis, dimana kaum muslimin mampu menerapkan ajaran Islam dan hidup selaras dengan petunjuknya. Lebih jauh negara baru ini merupakan negara demokrasi dengan konsep kedaulatan rakyat sebagai basisnya. Oleh karena itu, ijma’ sebagai pelaksanaan ijtihad kolektif dipandang perlu sehingga disetujuilah para ulama masuk ke dalam dewan legislatif untuk membantu dan memimpin perbincangan-perbincangan tentang masalah yang bertalian dengan hukum, setidak-tidaknya dalam tingkatan peralihan hingga hukum Islam telah dimodernisasi. Ide-ide inilah yang kemudian menjadi basis pemikiran politik kaum modernis muslim Pakistan. 

Pakistan berdiri dan merdeka dari inggris pada tanggal 14 Agustus 1947. Ia merupakan gabungan dari lima propinsi India diantaranya adalah Balukistan, Sind, Punjab, Bengal, dan Assam. Perancang awal Pakistan adalah Muhammad Iqbal (1873-1938 M) dan yang mewujudkan rancangan tersebut adalah Muhammad Ali Jinah (1876-1948 M).

Tokoh Modernis yang mendukung pendirian Pakistan adalah Ahmad Khan, Syed Amir Ali, dan Muhammad Iqbal. Disamping itu, pendirian Negara Pakistan juga mendapat dukungan dari (a). jama’ah tablig pimpinan Muhammad Ilyas; (b). gerakan sufi pimpinan Asyraf Ali Tsanvi; (c). Jama’ah Islamiyah pimpinan Abu Al-A‘la Al- Maududi; (d). gerakan Khilafah pimpinan Muhammad Ali Jauhar; (e). gerakan Khaksar pimpinan Inayatullah Al-Masyruqi.[3]

  1. C.    Negara Banghlades (1971 M)

Republik Rakyat Bangladesh adalah sebuah Negara di Asia Selatan yang berbatasan dengan India di barat, utara dan timur, dengan Myanmar di tenggara, dan Teluk Benggala di selatan. Bangladesh, bersama dengan Benggala Barat di India, membentuk kawasan etno-linguistik Benggala. Bangladesh secara harfiah bermakna “Negara Bangla”. Ibukota dan kota terbesar Bangladesh ialah Dhaka.

Perbatasan Bangladesh ditetapkan melalui pemisahan India pada tahun 1947. Negara ini merupakan sayap timur Pakistan (Pakistan Timur) yang terpisah dari sayap barat sejauh 1.600 kilometer. Diskriminasi politik, bahasa, dan ekonomi menimbulkan perpecahan antara kedua sayap, yang berujung pada meletusnya perang kemerdekaan tahun 1971 dan pendirian negara Bangladesh. Tahun-tahun setelah kemerdekaan ditandai dengan kelaparan, bencana alam, kemiskinan, huru-hara politik, korupsi, dan kudeta militer.

Bangladesh memiliki jumlah penduduk terbesar kedelapan di dunia dan merupakan salah satu negara terpadat di dunia dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Namun, pendapatan per kapita Bangladesh telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 1975 dan tingkat kemiskinan turun 20% sejak awal tahun 1990-an. Negara ini dimasukan sebagai salah satu bagian dari “Next Eleven“. Ibukota Dhaka dan wilayah urban lainnya menjadi penggerak utama dibalik pertumbuhan ini. Umat islam sudah menginjakan kakinya di Bengal sejak zaman Umar Ibnu Al-Khathab (637 M). Pada tahun 711 (masih zaman Umar), Muhammad Ibnu Al-Qosim sydah menaklukan Sindh (Pakistan Barat); daerah kekuasaan diperluas lagi pada zaman Bani Abbas. Pada tahun 871 M, orang-orang islam sudah menetap di sana. Pemerintah (Dinasti) Islam yang menguasai daerah Bengal adalah Mahmud Gaznawi dari Asia tengah (Afganistan) tahun 1001 M. Kemudian Bengal dikuasai oleh Kesultanan Delhi. Pada tahun 1341 M, Bengal melepaskan diri dari kesultanan delhi dan menyatakan merdeka di bawah pimpinan Syamsudin Ilyas sampai tahun 1541 M. Setelah itu dikuasai lagi oleh Afgan; dan kemudian Bengal ditaklukan oleh Akbar (Mughal) pada tahun 1676 M. kemudian Bengal berada dibawah Kerajaan Mughal; pemimpin Bengal disebut Nawab (Gubernur). Setelah Mughal lemah Bengal memerdekakan diri (1699 M). Akan tetapi, kemudian Bengal dikuasai oleh Inggris (1757 M). ketika merdeka dari inggris, Bengal disatukan dengan Negara Pakistan.[4]

Setelah inggris memberikan kemerdekaan, Pakistan dibedakan menjadi dua yaitu Pakistan Barat dan Pakistan Timur. Ketidakadilan kultur, politik, dan ekonomi mulai dirasakan oleh penduduk Pakistan timur. Disamping itu, penduduk Bengal merasa dieksploitasi oleh Pakistan barat. Pakistan timur hanya menerima 36 % dari total pendapatan nasional; hanya 13 % orang-orang Bengal yang menjadi pegawai pemerintahan, dan kurang dari 13 % orang Bengal yang menjadi tentara. Dari segi bahasa (kultur) Pakistan barat memaksakan diberlakukannya bahasa Urdu; padahal mereka memiliki bahasa tersendiri.[5]

Ketidak puasan orang Pakistan timur terhadap kultur, politik, dan ekonomi Pakistan mengkristal dan akhirnya, Mujiburrahman (pada tahun 1971 M) memimpin pemberontakan yang menuntut kemerdekaan. Mujiburrahman kemudian menjadi presiden Bangladesh pertama. Bangladesh tidak menyatakan diri sebagai Negara islam meskipun mayoritas penduduknya beragama islam. Dalam konstitusi 1972 dinyatakan bahwa prinsip dasar Negara Bangladesh adalah Sekuler; dan melarang partai politik yang dibentuk berdasarkan Afiliasi Agama.[6]

  1. D.    Islam Di Asia Selatan

Asia Selatan merupakan wilayah yang berpenduduk mayoritas Hindu, tetapi di sana sudah berdiri kekuasaan Islam. Di India utara pada tahun 1206-1555 telah berkembang Kesultanan Delhi, yang didirikan oleh Mu‘izz ad-Din. Sepeninggalnya tahun 1206, Aybak mengambil alih kekuasaan di Lahore sebagai Raja atas nama Sultan Uri di Firuzuk. Dari situ dan bagian Afgan dari kerajaan uri terlepas dari India, jatuh ke tangan Kawarazm-Šah dan kemudian Mongol. Di bawah Iletmiš, arsitek yang sebenarnya dari kesultanan Delhi, Sind dimasukkan ke dalam Kesultanan Delhi. Ia juga berusaha melindungi orang-orang Kawarazm di luar kekuasaannya, tetapi Mongol melindas Punjab Tahun 1241, menghancurkan Lahore dan kemudian maju sejauh Ucch. Suksesi sultan yang lemah membawa konflik internal, dan kesatuan kesultanan hanya dapat dijamin oleh perwalian dan kekuasaan independen dari Balban yang cakap, yang asalnya merupakan salah satu dari kelompok 40 budak Turki (Chihilgan) dari Iletmiš. Untuk memperkokoh kaitan dengan dunia Islam, ia minta pengakuan dari Khalifah ‘Abbasiyyah di Baghdad, al-Muntasir.[7] Pada tahun 1290 para Sultan Mu‘izz ad Din digantikan oleh garis Kalaji Jalal ad Din Firuz Šah II. Kalaj berasal dari orang-orang Turki (mungkin orang-orang yang ter-Turki-kan, berasal dari etnik yang berbeda) menempati Afganistan timur; pada masa Mu‘izz ad-Din, Kalaj memainkan peran penting dalam invasi Uri di India, dan adalah Iktiyar ad-Din Muhammad Kalaj yang pertama membawa Islam ke Bengal dan India Timur. Tugas yang mendesak bagi Firuz Šah II adalah menghindarkan Mongol; adalah pada masanya bahwa sejumlah besar orang Mongol yang telah memeluk Islam diperbolehkan tinggal di daerah Delhi. Figur yang menonjol dari dinasti Kalaji adalah ‘Ala’ ad-Din Muhammad, yang memandang dirinya Aleksander kedua dan yang memiliki impian besar membangun imperium yang luas. Pada kenyataannya, ia pertama-tama harus menghadapi ancaman Mongol Chaghatay di perbatasan barat laut, yang pada tahun-tahun sampai 1306 berkali-kali menyerang sejauh Delhi. Ambisi ‘Ala’ ad-Din terealisasi di selatan. Sebuah serangan tahun 1296 terhadap Devagiri atau Deogir di Deccan barat, ibukota Yadavas, membawakan kekayaan buatnya yang kemudian digunakan untuk menguasai kesultanan, dan ketika ia benar-benar mantap di singgasana, ia mengirim pasukan selanjutnya berjuang di selatan Deccan. ‘Ala’ ad-Din terus menggunakan gelar nasir amir al-mu’minin; penguasa Muslim India yang pertama dan terakhir yang menggunakan gelar amir al-mu’minin adalah anaknya, Qutb ad-Din Mubarak Šah I.[8]

[9]

KESIMPULAN

Islam datang ke asia selatan sejak zaman Nabi Muhammad SAW, yang dibawa oleh para pedagang arab melalui sejumlah pelabuhan besar yang ada di India, Sehingga terjadi interaksi antara para pedagang arab dengan masyarakat India. Oleh karena itu perdagangan yang dibawa oleh orang arab dan dakwah menyatu dalam satu kegiatan sehingga ada salah satu raja yaitu raja Kadangalur dan Cheraman. Pertama masuk islam dan diganti namanya menjadi Tajudin. Setelah Nabi Muhammad wafatpun penyebaran islam di wilayah ini masih terus berlanjut, ini terbukti pada zaman Umar Bin Khottob, Utsman bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib mengirim utusan untuk mempelajari adat istiadat dan jalan yang menuju ke asia selatan khususnya di india.

Bahkan pada masa pemerintahan Al-Ma’mun (dinasti bani Abbas) telah dilakukan penaklukan kewilayah asia selatan, dengan diangkatnya sejumlah amir untuk memimpin di daerah-daerah. Wilayah-wilayah yang termasuk ke asia selatan adalah India, Pakistan dan Bangladesh. Islam diperkenalkan dalam bentuk sebuah peradaban yang telah berkembang yang diwarnai dengan budaya keagamaan yang terorganisir secara mapan. Sementara itu keagamaan di asia selatan diwarnai dengan sistem kasta, Hinduisme Brahmanik, dan keyakinan Budha, dan diwarnai dengan dominasi elite Rajput dan elite politik Hindu lainnya.[10] Islam bukan kekuatan pertama yang dapat menguasai wilayah ini, tetapi dengan berkuasanya Islam di wilayah tersebut selama tiga abad lamanya, ternyata Islam mampu memberikan kontribusi bagi kebudayaan setempat. Karena wilayah ini terdiri dari berbagai macam ras, keturunan, dan golongan sehingga mengakibatkan wilayah ini mudah untuk dikuasai oleh kekuatan dari luar, diantaranya Islam (solihin_aagun).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hamka. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1975. Jilid 3

 

Karim, Abdul. Sejarah Islam Di India. Yogyakarta: Bunga Grafis Production, 2003

 

Kutojo, Sutrisno, dkk. Sejarah Dunia. Jakarta: Widjaya, 1990. Jilid 1

 

Maryam, Siti, dkk. Sejarah Peradaban Islam ”Dari Masa Klasik Hingga Modern”. Yogyakarta: Jurusan SPI Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga: 2003

 

Shireen T Hunter. Politik Kebangkitan Islam. Tiara wacana Yogya, 2001

 

Sejarahuntuksemua “islamdiasiaselatan” vandoblogspot.com, diakses 13 maret 2012 jam 18 :20 dilembang

 

http://www.sejarahislamdiasiaselatan.razsyah blogspot.com, diakses selasa 13 maret 2012 jam18:20 dilembang.

 

Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian kesatu dan Dua (Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada

 

http://www,eramuslim.com/Gujarat, India Kembali Diguncang Bentrokan Sektarian Hindu-Muslim – Berita Dunia.htm, diakses pada minggu 8 april 2012

 


[1] Maryam Siti dkk, Sejarah Peradaban Islam Dari Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: Jurusan SPI Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga: 2003

[2] Peradaban islam di asia selatan.blogspot.com, h. 1-2 di akses minggu 8 April 2012 jam 20:12 di bogor

[3] Ibid h. 2

[4] Shireen T Hunter. Politik Kebangkitan Islam. Tiara wacana Yogya, 2001, h. 229

[5]  Ibid h. 230

[6] Ibid

[7] Sejarahuntuksemua “islamdiasiaselatan” vandoblogspot.com, h. 1 diakses 13 maret 2012 jam 18 :20 dilembang

[8] Ibid h. 2-3

[9] Maryam Siti dkk, Sejarah Peradaban Islam Dari Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: Jurusan SPI Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga: 2003

[10] Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian kesatu dan Dua (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), h. 103

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s