MERASAKAN SEJUKNYA GURUN SPIRITUALISME


 

MERASAKAN SEJUKNYA GURUN SPIRITUALISME

 

Hidup sukses dan bahagia adalah dambaan setiap manusia. Itu sebabnya, manusia berlomba-lomba menggapai materi sebagai  jalan yang diyakini banyak orang untuk meraih sukses dan bahagia. Namun, banyak orang sukses secara materi, memiliki jabatan tinggi dan kekayaan berlimpah, tetap saja merasa tidak bahagia. Keakayaan dan kekuasaan justru membuat mereka  merasa sengsara. Dengan uang, mereka mampu membeli apa saja yang bisa dibeli, termasuk hukum, kekuasaan, wanita, dan tentu saja harta. Perilaku mereka (dan keluarganya) menjadi tidak terkendali mengikuti hawa nafsu. Muncullah berbagai ekses yang tidak baik.

        Orang  lain tentu selalu beranggapan bahwa kebanyakan orang kaya akan selalu bahagia. Sekilas memang demikian, tetapi kenyataan sesungguhnya tidaklah begitu. Mereka juga memiliki keragaman persoalan berat, kendatipun mungkin saja bukan pada aspek materi, karena sesungguhnya Sukses dan Bahagia adalah dua hal yang sangat berbeda. Sukses lebih banyak memakai ukuran fisik atau materi, sesuatu yang kasat mata. Sementara Bahagia lebih banyak memakai ukuran non-fisik atau spiritual. Bahagia adalah hal yang berkaitan dengan jiwa, yang tidak selalu berhubungan dengan sukses  materi. Perasaan bahagia muncul bila secara spiritual seseorang merasa bahagia.

Rasa dahaga manusia terhadap spiritualisme tidak akan pernah bisa dibendung sampai kapan pun karena pada dasarnya manusia adalah makhluk pembelajar, makhluk sosial sekaligus makhluk spiritual. Adanya God Spot menurut ilmu neuropsikologi di dalam temporal lobe otak manusia adalah bukti yang sahih tentang hal ini.

Kegersangan batin manusia di negara maju berawal dari sikap hidup yang mengutamakan materi atau duniawi. Kesuksesan semata-mata diukur dari kekayaan materi dan kesenangan duniawi, tanpa pernah merasa cukup dan terkadang tidak peduli bagaimana semua hal itu diperoleh.

Kekayaan dan kesuksesan bukanlah jaminan meraih kebahagiaan yang hakiki. Kebutuhan hidup manusia tidak hanya materi, melainkan juga spiritual. Materialisme hanyalah memuaskan sebagian kebutuhan manusia, yaitu kebutuhan jasmani. Sedangkan spiritualisme memuaskan bagian lain yang lebih penting yaitu kebutuhan batin / jiwa atau rohani.

 

Biografi  :

Teddy Khumaedi S.Sos.i  lahir dibogor, jawa barat 14 Januari 1980. Saat ini beliau menjabat sebagai ketua III Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Bogor. Pendidikannya ditempuh mulai dari Sekolah Dasar Negeri (SDN Gadog VI Gadog-Ciawi) selesai pada tahun 1993, sebelumnya pernah mengikuti program belajar paket B selama 3 bulan, pada tahun 2005, kemudian pada tahun 2006 melanjutkan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di Pondok Modern Assalam Parungkuda-Sukabumi selama 7 bulan, dan beliau pindah ke Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo (PMDG) tahun 1997-2002, kemudian pendidikan tinggi dilaluinya di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (S.Sos.i  2009) sekarang sedang melanjutkan  Program Pascasarjana Fakultas  Ilmu Agama Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung Program Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Studi Kawasan Dunia Islam (SKI) (M.Hum).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s