sebuah catatan harian tentang sejarah


 

 Filsafat Sejarah dan Metodologi Penelitian Sejarah

                                          Oleh : Teddy Khumaedi S.Sos.i

                 

  1. A.     Pendahuluan

 

  1. 1.      Ilmu Sejarah

     

Pengertian yang lebih komprehensif tentang sejarah adalah “ kisah dan peristiwa masa lampau umat manusia”. Definisi ini mengandung dua makna sekaligus, yakni sejarah sebagai kisah atau cerita merupakan sejarah dalam pengertiannya secara subyektif, karena peristiwa masa lalu itu telah menjadi pengetahuan manusia; sedangkan sejarah peristiwa merupakan sejarah secara obyektif, sebab peristiwa masa lampau itu sebagai kenyataan yang masih di luar pengetahuan manusia. Berdasarkan pengertian terakhir, peristiwa sejarah itu mencakup segala hal yang dipikirkan, dikata, dikerjakan, dirasakan, dan dialami oleh manusia (kuntowijoyo, 1995: 17), sehingga lapangan sejarah meliputi segala pengalaman manusia, dan lukisan sejarah merupakan pengungkapan fakta mengenai apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana sesuatu telah terjadi.

Faktor manusia dalam perspektif sejarah sangatlah penting esensial, karena berdasarkan kesadarannya manusia memiliki nilai historisitas, yakni selalu berkembang dalam rangka merealisasikan dirinya secara konkret. Oleh karena itu, peristiwa-peristiwa manusia sebagai kenyataan diri bersifat simbolis dan mengandung makna. Peristiwa sejarah bukan hanya kejadian fisik, melainkan peristiwa-peristiwa bermakna yang terpantul sepanjang waktu, sehingga dapat terungkap segi-segi pertumbuhan, kejayaan, dan keruntuhannya (Poespowardojo, 1992: 1). Dalam hal ini sejarah sesungguhnya identik dengan peradaban manusia, dan pemahaman atas sejarah berarti juga pemahaman kebudayaan. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa sejarah adalah sebuah ilmu yang berusaha menemukan, mengungkapkan, dan memahami nilai serta makna budaya yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa masa lampau.

 

Pengertian Sejarah

Secara etimologi, kata sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu syajarah, artinya pohon kehidupan, akar, keturunan dan asal-usul. Dalam bahasa Asing lainnya, peristilahan sejarah disebut histore (prancis), geschite (jerman), histoire atau geschiedenis (belanda), dan history (inggris), Akar kata history itu sendiri berasal dari historia (yunani) yang berarti inkuiri (inquiri), wawancara (interview), interogasi dari seorang saksi mata, laporan mengenai hasil-hasil tindakan: seorang saksi, seorang hakim, dan seorang yang tahu, atau pengetahuan tentang gejala alam terutama mengenai umat manusia yang bersifat kronologis, sedangkan yang tidak bersifat kronologis dipakai kata scientia atau science (Alfian, 1984: 3). Sedangkan dalam perkembangannya, sejarah hanya sebatas aktivitas manusia yang berhubungan dengan kejadian-kejadian tertentu (unik) yang disusun secara kronologis. Adapun ilmu sejarah merupakan ilmu yang berusaha menentukan pengetahuan tentang masa lalu suatu masyarakat tertentu (Gazalba, 1981: 2). Disiplin sejarah sebetulnya sejajar dengan ilmu-ilmu sosial yang lain seperti sosiologi, ilmu politik, dan antropologi; tetapi sejarah membicarakan masyarakat dengan selalu memperhatikan signifikansi ruang dan waktu.  Sejarah sebagai “ cerita tentang peristiwa di masa lampau” pada mulanya sangatlah naratif, yakni gambaran masa lalu itu hanya tersusun berdasarkan urutan fakta dengan penjelasan serta ulasan sekedarnya atas kenyataan-kenyataan atau peristiwa yang telah berlalu. Laporan tentang masa lalu seperti itu biasa disebut “Sejarah Naratif”. Sedangkan macam sejarah sendiri terbagi menjadi 2 macam yaitu :

  1. Sejarah Naratif  : yakni gambaran masa lalu itu hanya tersusun berdasarkan urutan fakta dengan penjelasan serta ulasan sekedarnya atas kenyataan-kenyataan atau peristiwa yang telah berlalu. Laporan tentang masa lalu seperti itu biasa disebut “Sejarah Naratif”
  2. Sejarah Ilmiah atau Sejarah Analisis : yakni bahwa pengkajian dalam suatu kisah dengan menerangkan sebab-sebabnya yang bersumber pada kondisi lingkungan peristiwa (kondisional) dan konteks sosial-budaya (kontekstual). Namun, pelukisan sejarah ilmiah yang pada gilirannya bertujuan memberikan makna dan penjelasan tentang faktor-faktor terjadinya suatu peristiwa itu dapat dilakukan secara implisit di dalam deskripsi, artinya analisa berdasarkan konsep dan teori yang relevan dilakukan bersamaan dengan deskripsi.

Dalam teks-teks Yunani seperti yang dikutip (Alfian, 1984: 3) istilah historia mempunyai tiga arti yaitu penelitian dan laporan tentang penelitian, suatu cerita puitis, dan suatu deskripsi yang persis tentang fakta-fakta. Dari Yunani, istilah historia masuk ke bahasa lain terutama melalui bahasa latin, maka dikenalah beberapa istilah sampai sekarang disebut history, historie, storia, historia. Adapun dalam bahasa inggris, sejarah disebut “history” diartikan sebagai “the development of everything in time” (perkembangan segala sesuatu dalam suatu masa). Dalam kamus berbahasa inggris, dijelaskan bahwa sejarah adalah “events in the past” atau peristiwa pada masa lampau.

Secara terminologi, banyak pendapat tentang pengertian sejarah diantara pendapat para pakar tentang pengertian sejarah seperti :

Ibnu Khaldun dalam Mukkadimah nya mendefinisikan bahwa sejarah adalah catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia.

Herodotus yang dijuluki sebagai The Father of History, berpendapat bahwa sejarah tidak berkembang kearah depan serta dengan tujuan yang pasti, melainkan bergerak seperti garis lingkaran yang tinggi rendahnya diakibatkan oleh keadaan manusia, yaitu Hybrid dan Memesis.

Wilhelm Dilthey seorang Filusuf Jerman pengikut idealisme mengatakan, bahwa sejarah termasuk kelompok ilmu pengetahuan tentang pikiran pengalaman-pengalaman manusia yang meliputi perasaan, emosi, dan sensasi termasuk pikiran dan akal budinya dapat dimengerti dengan cara menghayatinya.

Mohammad Hatta berpendapat juga bahwa, sejarah wujudnya mengenai pengertian dari masa lampau, ia menggambarkan dimuka kita satu tipe bentuk rupa dan masa itu, bukan gambar yang sebenarnya tapi gambar yang dimudahkan, ia bukan melahirkan cerita dari kejadian masa lalu tapi memberikan pengertian tentang kejadian satu sama lain, dengan menggabungkan kejadian atau masa itu sebagai masalah, ia mengemukakan masalahnya dalam keadaan yang heterogen.

Mohammad Yamin menjelaskan Sejarah ialah pengetahuan dengan umumnya yang berhubungan cerita bertarikan, tentang kejadian dalam masyarakat manusia pada waktu yang telah lampau, sebagai susunan hasil penyelidikan bukan tulisan atau tanda-tanda yang lain. 

Terlepas dari dua kategori ilmu sejarah seperti disebutkan diatas, berbagai penyajian dan jenis sejarah muncul sesuai dengan sudut pandang sejarawan, kultur yang mempengaruhi, dan masa yang melahirkan. Segala bentuk penyajian sejarah merupakan pengetahuan yang dapat berfungsi untuk beragam kegunaan. Diantara kegunaan sejarah menurut Wang Gungwu, sebagaimana dikutip T. Ibrahim Alfian (1985: 3), adalah : Pertama, untuk kelestarian identitas kelompok dan memperkuat daya tahan kelompok itu guna kelangsungan hidup. Kedua, sejarah berguna sebagai pengambilan pelajaran dan tauladan dari contoh-contoh di masa lalu, sehingga memberikan azas manfaat secara lebih khusus demi kelangsungan hidup itu. Yang, ketiga, sejarah berfungsi sebagai sarana pemahaman mengenai makna hidup dan mati. Maka sejarah berfungsi sebagai guru mengenai kehidupan (historia magistra vitae). Oleh karena itu, dengan mengembangkan peristiwa-peristiwa masa silam kita dapat menimba ajaran-ajaran praktis, dan pada gilirannya sejarah bermakna sebagai pedoman bagi masa kini dan masa yang akan datang. Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sejarah ialah cerita perubahan-perubahan, peristiwa atau kejadian-kejadian masa lampau yang telah diberikan tafsir atau alasan dan dikaitkan sehingga membentuk suatu pengertian yang lengkap. Kata sejarah masuk dalam pembendaharaan bahasa Indonesia sejak terjadinya akulturasi kebudayaan Indonesia dan kebudayaan islam sejak abad ke-13.

  1. 2.      Sejarah Sebagai Seni (History as of Art)

 

Kegunaan sejarah selain dapat dijadikan suatu pembelajaran atau biasa yang disebut sejarah sebagai ilmu, sejarah juga dapat dijadikan suatu alat untuk mengungkapkan kreasi kita yang dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Namun, suatu kreasi tersebut tidak terlepas dari adanya suatu data dan fakta. Karena dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari kajian ilmu tentang sejarah. Hal tersebut dapat diartikan bahwa sejarah sebagai seni. Cara kerja seorang sejarawan sama seperti seorang seniman (Kuntowijoyo, 1995: hal 69). Maka dari itu, sejarah dapat dipandang juga sebagai sebuah seni, atau biasa yang disebut sejarah sebagai seni. Adapun perbedaan antara sejarawan dengan seniman antara lain :

  1. Pengarang roman tidak terikat pada fakta-fakta sejarah, mengenai apa. Siapa, kapan, dan dimana, kesemuanya dapat berupa fiksi semata tanpa ada kaitannya dengan fakta sejarah tertentu. Begitu pula mengenai peristiwa-peristiwanya, maka tidak diperlukan bukti, berkas, atau saksi. Sedangkan bagi seorang sejarawan, pengarang dia terikat pada faktor-faktor sruktural tertentu.
  2. Baik sejarawan maupun pengarang novel membuat rekonstruksi yang terwujud sebagai suatu konstruk yang koheren. Perbedaanya ialah bahwa sejarawan terikat pada keharusan, yaitu bagaimana sesuatu sebenarnya terjadi di masa lampau, artinya tidak dapat ditambah-tambah atau direka-reka. Sedangkan novelis sebaliknya sepenuhnya bebas untuk menciptakan dengan imajinasinya tentang apa, kapan, siapa, dimana dan bagaimana.
  3. Hubungan-hubungan antara fakta-fakta perlu direkonstruksi, paling sedikit hubungan topografis atau kronologisnya. Sejarawan perlu menunjukan bahwa hal-hal yang ada sekarang dan disini dapat dilacak eksistensinya di masa lampau. Hal itu berguna sebagai bukti-bukti atau saksi-saksi dari apa yang direkonstruksi mengenai kejadian di masa lampau.
  4. 3.      Penulisan Sejarah

Penulisan sejarah merupakan bentuk dan proses pengkisahan atau peristiwa-peristiwa masa lalu umat manusia. Pengkisahan sejarah itu jelas sebagai suatu kenyataan subyektif, karena setiap orang atau setiap generasi dapat mengarahkan sudut pandangnya terhadap apa yang telah terjadi itu dengan berbagai interpretasi yang erat kaitannya dengan sikap hidup, pendekatan, atau orientasinya. Oleh karena itu, perbedaan pandangan terhadap peristiwa-peristiwa masa lampau, yang pada dasarnya adalah obyektif dan absolute, pada gilirannya akan menjadi suatu kenyataan yang relatif. Bagi sejarawan yang menganut “relativisme historis”, sikap netral dalam pengkajian dan penulisan sejarah merupakan sesuatu yang sulit untuk direalisasikan. Alasannya bahwa pengetahuan sejarah itu pada dasarnya adalah mengalihkan fakta-fakta pada suatu bahasa lain, menundukkannya pada bentuk-bentuk, kategori-kategori, dan tuntutan-tuntutan khusus (al-Sharqawi, 1981: 124). Proses pemilihan unsur-unsur tertentu mengenai perjuangan seorang tokoh, umpamanya, dilakukan oleh penulis biografi dengan mendasarkan diri pada interpretasi historis atas peristiwa-peristiwa yang dikehendakinya, lalu disusunlah kisah baru. Hal ini karena secara umum dapat dikatakan bahwa kerangka pengungkapannya atau penggambaran atas kenyataan sejarah itu ditentukan oleh sejarawan, sedangkan kejadian sejarah sebagai aktualitas itu juga dipilih dan dikonstruksi menurut kecenderungan seorang penulis atau sejarawan.

Disamping alasan praktis di atas, ternyata dimungkinkan lebih banyak lagi faktor yang menyebabkan terjadinya subyektivitas Ibnu Khaldun (1332-1406) sejarawan muslim terkenal, menyebutkan tujuh faktor yang dipandangnya sebagai kelemahan dalam karya historiografi, yaitu : 1) sikap pemilihan sejarawan kepada mazhab-mazhab tertentu; 2) sejarawan terlalu percaya kepada pihak penukil berita sejarah; 3) sejarawan gagal menangkap maksud-maksud apa yang dilihat dan didengar serta menurunkan laporan atas dasar persangkaan keliru; 4) sejarawan memberikan asumsi yang tidak beralasan terhadap sumber berita; 5) ketidaktahuan sejarawan dalam mencocokan keadaan dengan kejadian yang sebenarnya; 6) kecenderungan sejarawan untuk mendekatkan diri kepada penguasa atau orang berpengaruh; dan 7) sejarawan tidak mengetahui watak berbagai kondisi yang muncul dalam peradaban.

Bila ketujuh alasan tersebut atau sebagian darinya mewarnai karya sejarah dari suatu generasi maka generasi sejarawan yang juga akan terpengaruh dengannya. Maka kalau kepribadian sejarawan tak dapat disangkal lagi merupakan faktor dominan yang dapat menjuruskan penulisan sejarah menjadi subyektif maka seluruh kesadaran sejarawan itu sesungguhnya terselimuti oleh sistem kebudayaan.

  1. 4.      Metode Penelitian Sejarah

Metodologi atau Science of  Methods adalah ilmu yang membicarakan tentang metode atau cara, jalan, atau petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis. Pengertian lebih khusus, diungkapkan Gilbert J Garraghan (1957: 33), bahwa penelitian sejarah adalah seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis, dan mengajukan sintesa dari hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk tertulis. Senada dengan pengertian ini, Louis Gottschalk (1983: 32) menjelaskan metode sejarah sebagai “proses menguji dan menganalisis kesaksian sejarah guna menemukan data yang otentik dan dapat dipercaya, serta usaha sintesis atas data semacam itu menjadi kisah sejarah yang dapat dipercaya. Dengan demikian metode sejarah adalah petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis terdiri atas : Metode Heuristik : yaitu sebuah kegiatan mencari sumber-sumber untuk mendapatkan data-data, atau materi sejarah, atau evidensi sejarah. Dari sini kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana berat dan sulitnya pekerjaan yang akan dilakukan seorang peneliti atau sejarawan dalam membuat sebuah sejarah terkait dengan mengumpulan bahan atau data-data yang diperlukan dalam membuat / menyusun sebuah buku sejarah. Karena tahapan heuristik ini banyak menyita waktu, biaya, tenaga, pikiran dan juga perasaan. Sedangkan bagi seorang sejarawan professional kegiatan pengumpulan data dan sumber-sumber sejarah itu menjadi sesuatu yang “wajib”. Data dan sumber sejarah meliputi (sumber sejarah, bukti sejarah, dan fakta sejarah).

Metode Verifikasi/Kritik :  kritik/verifikasi sumber dilakukan oleh seorang sejarawan manakala sumber-sumber sejarah telah dikumpulkan bisa dikatakan proses kedua ini adalah proses penyeleksian sumber.  Dalam hal ini yang harus diuji adalah keabsahan tentang keaslian sumber (otentisitas) yang dilakukan melalui kritik ekstern; dan keabsahan tentang kesahihan sumber (kredibilitas) yang ditelusuri melalui kritik intern. Terdiri dari (keaslian Sumber dan Kesahihan Sumber), sebagaimana telah dikemukakan diawal bahwa kesaksian dalam sejarah merupakan faktor paling menentukan sahih dan tidaknya bukti atau fakta sejarah itu sendiri. Menurut Gilbert J. Garraghan, kekeliruan saksi pada umumnya ditimbulkan oleh dua penyebab utama: Pertama, kekeliruan dalam sumber informasi yang terjadi dalam usaha menjelaskan, menginterpretasikan, atau menarik kesimpulan dari sesuatu sumber itu. Kedua, kekeliruan dalam sumber formal. Penyebabnya ialah kekeliruan yang disengaja terhadap kesaksian yang pada mulanya penuh kepercayaan; detail kesaksian tidak dapat dipercaya; dan para saksi terbukti tidak mampu menyampaikan kesaksiannya secara sehat, cermat, dan jujur (Garraghan, 1957: 232).

Metode Interpretasi (Analisa Fakta Sejarah)     : Interpretasi atau penafsiran sejarah sering kali disebut juga dengan analisis sejarah. Analisis sendiri berarti menguraikan dan secara terminologis berbeda dengan sintesis yang berarti menyatukan. Namun, keduanya, analisis dan sintesis, dipandang sebagai metode-metode utama di dalam interpretasi (Kuntowijoyo, 1995: 100). Analisis sejarah itu sendiri bertujuan melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersama-sama dengan teori-teori disusunlah fakta itu ke dalam satu interpretasi yang menyeluruh (Berkhofer, dikutip Alfian, 1994). Dalam proses interpretasi sejarah, seorang peneliti harus berusaha mencapai pengertian faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa. Data sejarah kadang mengandung beberapa sebab yang membantu mencapai hasil dalam berbagai bentuknya. Walaupun suatu sebab kadangkala dapat mengantarkan kepada hasil tertentu, tetapi mungkin juga sebab yang sama dapat mengantarkan kepada hasil yang berlawanan dalam lingkungan lain. Interpretasi dapat dilakukan dengan cara memperbandingkan data guna menyingkap peristiwa-peristiwa mana yang terjadi dalam waktu yang sama. Beberapa interpretasi mengenai sejarah yang muncul dalam aliran-aliran filsafat yaitu : (Interpretasi Monistik dan Interpretasi Pluralistik). Tidak ada keharusan dalam penggunaan terhadap salah satu interpretasi dalam penelitian sejarah.

Metode Historiografi (Penulisan Sejarah) : historiografi di sini merupakan cara penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. Layaknya laporan penelitian ilmiah, penulisan hasil penelitian sejarah itu hendaknya dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai proses penelitian sejak awal (fase perencanaan) sampai dengan akhirnya (penarikan kesimpulan). Berdasarkan penulisan sejarah itu pula akan dapat dinilai apakah penelitiannya berlangsung sesuai dengan prosedur yang dipergunakannya tepat ataukah tidak; apakah sumber atau data yang mendukung penarikan kesimpulannya memiliki validitas dan reliabilitas yang memadai ataukah tidak; jadi dengan metode penulisan itu akan dapat ditentukan mutu penelitian sejarah itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Abdurrahman, Dudung oktober 2011, Metodologi Penelitian Sejarah Islam. Penerbit Ombak, Yogyakarta

Kuntowijoyo, agustus 2003, Metodologi Sejarah. Edisi kedua. PT. Tiara Wacana kaliurang Yogyakarta.

Sulasman,  2012, Metodologi Penelitian Sejarah. Makalah Perkuliahan, Bulan Juni 2012, tidak diterbitkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s