:-) 1


Kosmologi Islam :

 Dari Literatur, Sains, dan Filsafat Islam

 

Oleh :

Teddy Khumaedi S.Sos.i

 

 

 

Abstraksi

 

 

Alam semesta sudah menjadi perhatian oleh manusia semenjak dulu kala. Beberapa pertanyaan esensial yang sama selalu hadir: dari mana dunia ini datang, dari apa dibuat, bagaimana dan kapan permulaannya, bagaimana akhirnya, seberapa besar dan lain sebagainya. Jawaban-jawaban berkembang pada masing-masing bangsa dan peradaban. Jawaban itu menjadi cerita, cerita menjadi legenda, dan legenda menjadi mitos. Banyak alasan kenapa umat manusia pada zaman itu memikirkan hal tersebut. Namun dari sekian banyak alasan itu, bisa dikategorikan dalam dua hal: 1). Meningkatkan kualitas hidup: perkiraan cuaca, bertani, berlayar, arah kiblat, mata angin, dan lain sebagainya. Astronomi sangatlah berjasa bagi nenek moyang kita. 2). Kebutuhan alamiah untuk perlu takut pada sesuatu yang lebih besar. Manusia pada saat itu sadar atau tidak selalu mendambakan adanya satu kekuatan yang besar untuk memberi perlindungan. Kebutuhan agama, kata orang teologi. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, orang mulai melakukan pengamatan lebih rasional terhadap alam semesta. Astronomi berkembang, dari pengamatan bintang dan planet melebar ke studi struktur dan evolusi alam semesta. Lahirlah Kosmologi, sains yang mencari pemahaman fundamental alam semesta. Kesulitan eksperimen untuk memapankan sebuah teori Kosmologi, sampai pada abad pertengahan hipotesis dasar Kosmologi lahir dari pemahaman dari pemikiran manusia tempo dulu, mitos, pengamatann yang terbatas, dan teologi. Teologi menjadi sumber yang paling banyak berkontribusi. Mitos misalnya, ada kosmologi bangsa viking yang terkenal (yang kemudian menjadi basis dasar Tolkien dalam membangun dunia fantasi middle-earth-nya), atau bagaimana kepercayaan bangsa maya tentang penciptaan alam semesta. Dari teologi, hampir seluruh agama menyertakan cerita alam semesta; Hindu, Budha, Kristen, Yahudi, dan Islam. Setelah sains berkembang dan teknologi memadai, baru kemudian pengamatan secara signifikan berkontribusi pada Kosmologi

 

A. Kenapa Kosmologi Islam? (Ilmu tentang alam)

 

Hakikat Fisika adalah ayat-ayat Allah (sunatullah, fenomena alam) yang dapat dimengerti oleh Sains . Sementara sains itu sendiri adalah ilmu pengetahuan dasar yang diperoleh dari logika dan pendekatan ilmiah. Hubungan antara Fisika dan Sains tidak perlu lagi dipertanyakan. Yang menarik adalah hubungan Sains dengan Teologi: Kosmologi Islam menjadi contoh yang sangat bagus untuk menggambarkan hubungan harmonis diantara mereka berdua: bagaimana sains membantu memahami Al-Quran, dan bagaimana Al-Quran menjadi literatur utama sains. Karena Kosmologi adalah titik awal dari ilmu pengetahuan dalam Islam.[1] Bahwa Islam mengajarkan Kosmologi pada umat manusia dari literatur paling utama: Al Quran. Dan kemudian kita akan melihat bagaimana sains membahas dalam kasus yang sama. Kita sebagai muslim tentu percaya Al Quran mutlak kebenarannya, walau mungkin kemampuan kita belum cukup memahami maknanya. Sementara kebenaran science itu relatif, sebuah teori (dalam sains) dianggap benar selama tidak ada teori yang membuktikan itu salah. Teori yang dianggap benar sekarang bisa jadi usang 100 tahun lagi. Pemaparan literatur ke sains yang dilakukan adalah sejauh pemahaman sains itu sendiri dan teknologi yang menyertainya. Kemudian dalam Al- Qur’an sendiri mengandung kebenaran ilmiah yang ada kesesuaian dengan ilmu pengetahuan modern.[2] Di lingkaran ilmiah, orang lebih sering menyebutnya sebagai intuisi[3], penemuan kebetulan atau hanya dikatakan ”dia mendapatkan gagasan luar biasa”. Dalam hal ini pembahasan dalam dunia filsafat Islam mengenai penciptaan alam ada 4 pertanyaan paling esensial umat manusia semenjak dahulu: 1. Berapa besarnya? 2. Dari apa dibuat? 3. Bagaimana permulaannya? 4. Apa akhirnya?

B. Penciptaan Alam Semesta Menurut Al-Quran

 

Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (Ali Imran: 190).

Yaitu orang-orang yang menginta Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran: 191).[4]

 

Memikirkan penciptaan, struktur, dan perkembangan (evolusi) alam semesta adalah salah satu hal untuk mengingat kekuasaan Allah. Ada 4 karakter dalam diri seorang muslim yang berpikir (ulil albab):[5] 1). Mereka yang senantiasa mengingat Allah sambil berdiri, duduk, maupun berbaring (:dalam segala aktivitasnya); 2). Dan selalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (tak henti menelaah fenomena alam); 3). (bila dijumpainya suatu kekaguman mereka berkata:) “Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau.” 4). (dan dengan kesadaran bahwa pengembaraan intelektualnya mungkin sesat, mereka senantiasa memohon kepada Allah:) “Dan jauhkanlah kami dari siksa neraka”.

Dengan demikian Ulil Albab memiliki fakultas penalaran, perenungan, ketakwaan, dan pengetahuan. Karakteristik yang lainnya adalah mendengarkan kebenaran, mampu menjauhi kepalsuan-kepalsuan ilusi, menyembah Tuhan, bijaksana, menyadari, dan mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman masa lalu.[6]

 

 

  1. 7 Lapis langit dan Bumi

 

Baik Quran dan Hadis cukup sering mengatakan tentang “tujuh lapis langit dan bumi”.[7] Apakah ini maksudnya benar-benar langit biru yang kita lihat sehari-hari? Ataukah sesuatu yang lain? Beberapa orang mencoba mengintepretasikan sebagai tanda dari Al-Quran untuk menjelaskan sistem tata surya kita; lapisan langit sebagai level jarak dimana objek langit mengorbit. Mereka meletakkan dalam urutan berdasarkan jaraknya dari bumi:

  1. Bulan pada lapisan kesatu
  2. Mercury pada lapisan kedua
  3. Venus pada lapisan ketiga
  4. Matahari pada lapisan keempat
  5. Jupiter pada lapisan keenam
  6. Saturnus pada lapisan ketujuh

Saat itu mungkin Uranus dan Pluto belum ditemukan, jadi tidak termasuk dalam daftar. Pemikiran ini sebenarnya terpengaruh oleh model geometri dari geosentris Ptolemeuys[8], ide utama geocentris “bumi adalah sentral”. yakni alam yang berpusat di bumi. Walau disisi lain mereka menolak ide utama geocentris ini. Pengertian ini jelas salah. Ini secara fisis tidak masuk akal seperti yang dikemukakan Ibnu Sina; lebih rasional apabila bumi berputar pada sumbunya.[9] Berdasarkan bahasa Arab yang dipakai Al-Quran, terminologi “tujuh” atau “tujuh puluh” merujuk pada angka yang tak terhitung, dalam kata lain: banyak sekali. Memakai defenisi ini maka “tujuh lapis langit dan bumi” menggambarkan betapa banyaknya benda-benda langit di angkasa (langit) dan planet (bumi). Karena angka tujuh menggambarkan pikiran tentang jumlah yang majemuk atau jamak, dan kebesaran atau ke-tak-terbatasan ciptaan Allah.[10]

 

  1. 2.  Bagaimana alam semesta bermula?

 

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, Maka mengapa mereka tiada juga beriman? (Al-Anbiya: 30).[11]

 

Al-Quran menyatakan alam semesta datang dari satu sumber materi dan energi, dan kemudian Allah mengembangkannya. Allah menciptakan alam semesta dari kumpulan materi yang sangat padat dalam ruang yang sangat kecil yang dihamburkan dari suatu ledakan maha dahsyat yang terjadi pada suhu yang sangat tinggi.[12] Islam mengakui konsep singulariti (kesamaan) alam semesta (teori Big Bang). Artinya keterpaduan ruang dan materi berada dalam satu titik yang merupakan volum yang berisi seluruh materi. Sedangkan pemisahan mereka terjadi dalam suatu ledakan dahsyat atau dentuman besar yang melontarkan materi ke seluruh penjuru alam yang berkembang dengan sangat cepat sehingga tercipta universum yang berekspansi. Surat Al-Anbiya: 30 juga menyatakan bahwa memang semula seluruh materi jagat raya, baik yang kemudian membentuk bumi maupun yang kemudian membentuk isi langit bersatu padu ; kemudian mereka dipisahkan oleh Allah bersamaan dengan mengembangnya alam semesta.

Tentang Teori Big Bang[13] dapat dikemukakan bahwa Alam semesta berasal dari 1 titik yang sangat masif dan meledak memancarkan energi yang luar biasa tingginya. Mengenai kecepatan berkembangnya alam semesta diperkirakan terjadi antara sepuluh sampai lima belas milyar yang lalu.  Kemudian, dari keliling kosmos dan umurnya, dapat dihitung kembali suhu alam semesta sesaat setelah ledakan terjadi. Diperkirakan pada saat itu suhu kosmos melebihi seratus juta juta lebih derajat. Kerapatan tinggi pada suhu yang rendah membentuk  benda padat; kerapatan rendah pada suhu tinggi membentuk gas. Tetapi kerapatan materi yang sangat tinggi yang dibarengi dengan suhu yang sangat tinggi ilmuwan tidak tahu keadaannya kecuali menamakannya sebagai sop-kosmos; suatu fluida.

Inilah yang disebut dalam surat Hud ayat 7[14] dengan ”air”. Kata-kata singgasana-Nya berada di atas air (sebelum bumi dan langit diciptakan) oleh karenanya mengandung makna bahwa pemerintahan atau peraturan Allah ditegakkan atas fluida kosmos itu. Pada saat itu materi beserta ruang kosmos sudah diatur oleh Allah; dan mereka mengikuti serta tunduk pada peraturan-peraturan itu. Jadi pada saat penciptaan alam semesta, Allah telah menetapkan berlakunya hukum-hukum alam sebagai Sunnatullah. Hidrogen (dinyatakan sebagai air – susunan atom air adalah H2O) adalah materi utama saat itu. Dan kemudian air (eksplisit) menjadi materi utama dari kehidupan.[15]

 

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati: (Fushshilat: 11) Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, dan Dia berkehendak menuju langit, lalu disempurnakan-Nya tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-Baqarah: 29).[16]

 

Al-Quran menyatakan, setelah Big Bang terjadi, terdapat banyak asap di alam semesta kita, yang kemudian nantinya menjadi bahan utama penciptakaan objek-objek angkasa dan planet. bintang lahir dari penggabungan partikel-partikel yang terdapat dalam awan molekul. Partikel-partikel ini akan berinteraksi satu sama lain karena adanya gaya gravitasi. Mereka akhirnya membentuk sebuah inti yang sangat besar dengan bentuk spherikal (bola). Inti ini berputar, sehingga awan yang menyelimutinya juga ikut berputar. Material yang masih tersisa di awan tidak jatuh ke inti, melainkan membentuk semacam cakram mengelilingi inti. Inti ini kemudian menjadi bintang, dan material dalam awan menjadi planet-planet yang mengorbit disekitar bintang. Sumber energi bintang (sehingga bisa bercahaya) adalah pembakaran 4 atom Hidrogen menjadi 1 atom Helium (ini juga disebut reaksi nuklir fusi). Pembakaran 4 atom Hidrogen menghasilkan atom Helium + beberapa partikel subatomik. Karena ada selisih massa antara Hidrogen dengan Helium + beberapa partikel subatomik, selisih massa ini dirubah menjadi energi yang membuat bintang bercahaya. Reaksi nuklir fusi ini, selain membentuk Helium, juga membentuk beberapa element berat. Ketika bahan bakarnya (Hidrogen) habis, bintang siap-siap untuk “mati”. Akhir dari bintang sangat tergantung pada massa dan fisik si bintang. Ada yang hilang begitu saja dengan melepaskan sejumlah material ke alam semesta, ada yang meledak (supernova), ada juga yang menjadi hantu (black hole). Material yang dilepaskan akan kembali bergabung bersama membentuk awan molekul baru. Dan proses berulang kembali. Begitulah Allah mendaur ulang langit[17]

 

3. Bintang, bintang, bintang di mana-mana

 

Maka Dia menyempurnakan tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (Fushshilat: 12)[18]

 

Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui telah menjadikan tujuh langit (atau tujuh ruang alam) dalam dua tahap, (pada saat inflasi dan sesudahnya) dan menetapkan hukum-hukum alam yang berlaku di dalamnya dan menghiasi dunia dengan pelita-pelita (dalam bentuk bintang, bulan, matahari dsb.), serta menjaganya (dengan memberikan atmosfer, lapisan ozon dsb.).[19]                                                                                                                                                      Bintang-bintang menghiasi langit (dengan jarak yang dekat), kata Allah. Jarak antar bintang terdekat itu adalah sekitar 4 ~ 10 tahun cahaya. Bintang-bintang yang terlihat dari bumi barulah yang disekitar matahari, bagaimana dengan bintang-bintang dari galaksi yang lainnya? Ukuran bintang saja sudah sangat besar, apa lagi galaksi? Dan apakah tidak butuh ruang yang maha besar untuk menempatkan galaksi-galaksi itu? Hal lain yang menarik dicermati adalah: Al-Quran juga menyatakan bahwa langit itu belumlah selesai. Langit masih (terus) berproses, seperti pembahasan di atas: evolusi bintang. Bukti yang paling terkenal tentang “proses langit yang belum selesai” adalah: pengembangan alam semesta.[20] ”Dan langit, dengan kekuasaan Kami, Kami bangun, dan Kami akan memuaikannya selebar-lebarnya” Az Zariyat : 47

 

4. Masa Depan Alam Semesta: Alam Semesta Mengembang

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya (Adz Adzaariyaat: 47)[21]

Al-Quran secara jelas menyebutkan bahwa alam semesta ini mengembang. Alam semesta ini dinamik dengan segala konsekuensinya. Ini adalah bagian dari “penyempurnaan langit” seperti yang sudah dibahas sebelumnya. Konsep alam semesta mengembang ini sebenarnya sudah dikemukakan oleh Einstein (sebagai salah satu solusi dari persamaan Medan General Relativity-nya yang sangat terkenal), jauh sebelum Hubble menemukan bukti. Sayangnya, Einstein sudah apriori duluan dengan konsep Alam Semesta ini stabil statis.

Pada tahun 1929 barulah Hubble dengan teropong raksasanya yang bersejarah memperoleh data bahwa benda-benda langit menjauhi bumi.[22] Alam Semesta kita tidaklah statis seperti yang dipercaya sejak lama, namun bergerak mengembang. Kemudian ini menimbulkan suatu perkiraan bahwa Alam Semesta bermula dari pengembangan di masa lampau yang dinamakan Dentuman Besar. Pada saat itu dimana Alam Semesta memiliki ukuran nyaris nol, dan berada pada kerapatan dan panas tak terhingga; kemudian meledak dan mengembang dengan laju pengembangan yang kritis, yang tidak terlalu lambat untuk membuatnya segera mengerut, atau terlalu cepat sehingga membuatnya menjadi kurang lebih kosong. Dan sesudah itu, kurang lebih jutaan tahun berikutnya, Alam Semesta akan terus mengembang tanpa kejadian-kejadian lain apapun. Alam Semesta secara keseluruhan akan terus mengembang dan mendingin.Alam Semesta berkembang, dengan laju 5%-10% per seribu juta tahun. Alam Semesta akan mengembang terus,namun dengan kelajuan yang semakin kecil,dan semakin kecil, meskipun tidak benar-benar mencapai nol. Walaupun andaikata Alam Semesta berkontraksi, ini tidak akan terjadi setidaknya untuk beberapa milyar tahun lagi.Konsep alam semesta mengembang adalah salah satu konsep fundamental dalam Kosmologi Modern.

5. Model Alam Semesta

Cukup banyak ayat Al-Quran yang membicarakan kiamat sebagai akhir alam semesta.

Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia mengumpulkan semuanya apabila dikehendakiNya (Asy Syuura: 29)[23]

Banyaknya planet di alam semesta ini memungkinkan bahwa kehidupan bisa terjadi tidak hanya di bumi kita. Ayat di atas sejara eksplisit menjelaskan bahwa adanya makhluk di langit (di luar bumi) yang berdiam. Cuma kita tidak tahu makhluk hidup yang bagaimana, apakah berintelegensi seperti kita, lebih rendah atau lebih tinggi, ataukah cuma makhluk dengan level kehidupan rendah seperti bakteri atau amuba? Yang jelas, walaupun ada dan apapun tingkat intelegensi mereka, manusia tetap menjadi makhluk mulia seperti beberapa kali dinyatakan dalam Al Quran

Surat Al-Qiyamah bercerita pada kita tentang dahsyatnya hari kiamat. Pada ayat 8 dan 9, mengindikasikan bahwa langit dan bumi kembali menjadi satu, seperti halnya ide dasar teori Big Crunch[24]. Sementara itu, di surat At-Takwir ayat 1, 2, 6, 11, dan 12 bercerita tentang matahari membengkak sampai menjadi merah dengan temperatur yang luar biasa panasnya. Saking panasnya sehingga semua air yang ada di bumi menggelegak dan menguap. Kemudian matahari akan terus bertambah besar hingga planet-planet disekitarnya, Merkurius, Venus, Bumi dan Bulan, serta Mars, masuk ke dalam bola gas matahari. Inilah salah satu proses evolusi bintang, dan matahari kita adalah seperti bintang biasa yang pasti akan mengalami proses mati. Kita tidak bisa bicara tentang rentang waktu tibanya peristiwa ini sampai akhirnya kehancuran total alam semesta. Karena, walaupun secara teoritik dapat diperkirakan kapan matahari akan menjadi bintang raksasa merah, terlalu besar ketidakpastiannya. Kehancuran total nampaknya bermula dari mulai berkontraksinya alam semesta. Kontraksi atau pengerutan alam semesta yang digambarkan dalam model closed-universe. Ketika itulah galaksi-galaksi mulai saling mendekat dan bintang-bintang, termasuk tata surya, saling bertumbukan atau dengan kata lain ‘jatuh’ satu terhadap yang lain. Alam semesta makin mengecil ukurannya. Dan akhirnya semua materi di alam semesta akan runtuh kembali menjadi satu kesatuan seperti pada awal penciptaannya.[25]

Menurut Friedmann[26] ada tiga kemungkinan (model) yang akan terjadi pada alam semesta di masa mendatang: (1) alam semesta bersifat tertutup (closed universe). Untuk model ini alam semesta akan berhenti berkembang pada suatu masa dan gaya gravitasi akan kembali menyatukan semua galaksi menuju ke satu titik (Big Crunch), (2) Jika gaya gravitasi terlalu lemah untuk mengatasi proses pengembangan alam semesta, alam semesta akan terus menerus berkembang dengan cepat dan selamanya, (3) jika proses pengembangan alam semesta tidak terlalu cepat namun hanya cukup untuk mengeliminasi gaya gravitasi, alam semesta berkembang menuju ukuran tertentu dan kecepatan pengembangannya berkurang sedikit demi sedikit menuju nol, akhirnya alam semesta bersifat datar.

 Hal yang sama juga disebutkan pada Surat Al Anbiyaa ayat 104[27]: “Pada hari Kami (itu) gulung langit sebagai mengguling lembaran lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulangnya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” Alam semesta kita memang masih lama untuk berakhir, karena masih mengembang.

 

D. Kosmologi Islam Menurut Filsafat Peripatetik

 

Pemikiran filsafat Islam mengenai kosmologi dapat ditemukan dalam pemikiran peripatetik, yaitu asal muasal alam melalui emanasi. Tentang Emanasi ini Haidar Bagir menuliskan dalam Buku Saku Filsafat Islam (Mizan, 2005) menuliskan:

Awalnya adalah Tuhan yang Tunggal, tak ada sesuatu selain-Nya. Lalu terjadilah emanasi (al-faidh, pancaran) ilahi menurut falsafat Al-Farabi, yang didukung pula oleh Ibn Sina, yang darinya bermulalah proses penciptaaan alam semesta (ibdâ’). Alam semesta yang tercipta sebagai hasil proses emanasi ini tersusun dalam hierarki-hierarki. Mulai dari Allah –yang tertinggi, bahkan melampaui batas apapun—melewati wujud-wujud immaterial murni di bawahnya, hingga wujud paling rendah dari bagian material alam semesta.

Menurut teori emanasi ini, wujud Allah sebagi suatu wujud Intelegensia (Akal) Mutlak yang berpikir tentang dirinya, “sebelum” adanya wujud-wujud yang selain-Nya –secara otomatis menghasilkan —(yakni, memancarkan)—Akal Pertama (‘Al-Aql Al-Awwal) sebagai hasil “proses” berpikir-Nya. Menurut sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, “Yang Pertama kali aku ciptakan adalah al-‘aql, Sang Akal (akal Pertama).”

Pada gilirannya, Sang Akal –sebagai akal—berpikir tentang Allah dan sebagai hasilnya, terpancarlah Akal Kedua. Proses ini berjalan terus hingga berturut-turut terciptalah Akal Ketiga, Akal Keempat, Akal Kelima dan seterusnya hingga Akal Kesepuluh. Akal Kesepuluh ini adalah akal terakhir dan terendah dalam tingkatan-tingkatan wujud di alam imaterial.

Di samping terciptanya akal-akal tersebut, proses ini juga menghasilkan terciptanya jiwa dan wadag planet-planet. Untuk menjelaskan masalah ini, marilah kita kembali kepada berbagai tingkatan akal tersebut. Selain berpikir tentang Allah sebagai Sumber Penciptaannya, Akal Kedua juga berpikir tentang dirinya sendiri. Namun, dari proses ini terpancarlah (baca: terciptalah) jiwa dan wadag planet tertinggi –yang pertama dalam tingkatan planet—yang disebut sebagai planet atau langit pertama (al-sama’ al-‘ûlâ). Selanjutnya, proses berpikir tentang diri sendiri ini dilakukan oleh Akal Kesepuluh dengan hasil terciptanya, secara berturut-turut, jiwa dan wadag bintang-bintang tetap (al-kawâkib al-tsâbitah), Saturnus, (Zuhal), dan seterusnya. Hingga terciptanya bulan (al-qamar) sebagai planet kesembilan dan bumi (al-ardh) sebagai planet kesepuluh. Pertanyaannya, mengapa proses emanasi berhenti pada Akal Kesepuluh? Jawabannya jauh dari rumit. Hal ini terkait dengan perkembangan astronomi pada era filosof Muslim masa itu –yang diwarnai oleh pandangnan Ptolomeus. Dalam astronomi Ptolomeus, planet-planet dipercayai berjumlah sepuluh. Untuk menghasilkan sepuluh planet itulah, akal pun dibatasi hingga berjumlah sepuluh. Dan sudah tentu pandangan seperti ini sekarang sudah usang.

Kembali kepada penciptaan planet-planet, yang perlu diperhatikan adalah bahwa, berbeda dengan planet-planet lain, planet bumi tak lagi bersifat imaterial murni, tetapi telah merupakan campuran antara yang imaterial (’aql atau rûh) dengan yang material. Dengan kata lain, semua wujud i bumi merupakan gabungan (komposit) antara materi (maddah) dengan forma (shûrah) –yang bersifat imaterial. Sebagai ilustrasi yang paling jelas adalah manusia yang merupakan gabungan antara badan atau wadag yang bersifat materi dengan akal atau ruh yang bersifat imateri. Pada dasarnya, seluruh ciptaan –termasuk apa yang selama ini kita anggap benda mati—merupakan gabungan antara maateri dan ruh seperti disinggung di atas, jiwa-jiwa. Di bumi ini tak ada materi mutlak atau pun akal atau ruh mutlak. Untuk benda mati, forma (shûrah) itulah akal atau ruhnya.[28] Dengan demikian diperoleh gambaran berikut:

Akal l menghasilkan Akal IV dan Saturnus.

Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter.

Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars.

Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari.

Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus.

Akal VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri

Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan.

Akal X menghasilkan hanya Bumi.

Pemikiran Akal X tidak cukup kuat lagi untuk menghasilkan Akal.[29]

Aspek materi ciptaan atau wujud di bumi terbentuk di bawah pengaruh planet bulan. Sementara itu, forma diberikan oleh Akal Kesepuluh. Ini sebabnya Akal Kesepuluh disebut sebagai Pemberi Forma (Dator Formarum atau Wahb Al-Shuwar) yang sering sekali diidentikkan dengan Malaikat Jibril.

Memang, Akal Kesepuluh, yang juga biasa disebut sebagai Akal Aktif (Al-’Aql Al-Fa’al) ini juga bertugas untk memberikan –tepatnya, seperti akan kita lihat dalam pembahasan kita tentang akal di bawah ini, mengaktualisasikan –intelek (akal) manusia dan dengan demikian, ”memberi”nya ilmu (pengetahuan). Yang terakhir ini bisa disebut sebagai pencerahan (ilhâm), atau wahyu jika terkait dengan para nabi. Jika rantai proses penciptaan di alam imaterial bersifat menurun, rantai hierarki maujud di bawahnya –yakni di alam (gabungan antara yang imaterial dan) material –bersifat menaik.

Seperti telah disinggung di atas, yang terendah di alam seperti ini adalah materi murni –yang pada praktiknya tidak ada. Dalam filsafat Islam maujud komposit yang biasa disebut sebagai jiwa mineral (al-nafs al-’aqdiyyah) –adalah yang unsur materinya relatif paling dominan. Dari sini, kita mendapati berturut-turut jiwa tumbuhan (al-nafs al-nabâtiyyah), jiwa hewan (al-nafs al-hayawâniyyah), dan jiwa manusia yang berpikir (al-nafs al-nâthiqah).

Jiwa yang di atas merupakan pengembangan –sebutlah evolusi, jika mau—dan meliputi, jiwa yang lebih rendah. Setiap bagian jiwa ini menyumbang pada natur manusia. Jiwa tumbuhan menyambung pada aspek vegetatif (nutritif dan apetitif) manusia, sementara jiwa hewan menyumbangkan aspek emosi (syahwat) padanya

 

Pendapat Saya

 

Kita kembali ke tujuan awal: menjawab 4 pertanyaan esensi alam semesta dari kaca mata Kosmologi Islam. 1. Berapa besar alam semesta? Alam semesta adalah wilayah yang subhanallah besarnya dan sedang mengembang (dinamis). Mengembang ini akan berhenti pada satu masa, seperti model closed-universe pada Kosmologi Modern. 2. Dibuat dari apa? Disebutkan bahwa Hidrogen menjadi materi utama pembuatan struktur alam semesta. 3. Bagaimana permulaannya? Alam semesta berasal dari satu sumber, dan kemudian Allah mengembangkannya. Ini sangat dekat dengan teori Big Bang. 4. Bagaimana akhirnya? Akan ada akhir bagi alam semesta. Sebagaimana permulaan yang berasal dari satu titik, maka akan diakhiri dengan kembalinya alam semesta menjadi titik. Hal ini juga digambarkan dalam model closed-universe.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Baiquni, A. 1983. Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern. Jakarta ; Pustaka.

 

Baiquni, Achmad. 1997. Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman. Yogyakarta ; PT Dana Bhakti Prima Yasa.

 

Bucaille, Maurrice, dkk. 1995. Pengetahuan Modern dalam Qur’an. tarj. A. Khozin Afandi. Surabaya ; Al Ikhlas .

 

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tarjamahnya.

 

Golshani, Mehdi. 2003. Filsafat-Sains Menurut Al-Qur’an. Peng. Zainal Abidin Bagir. Bandung; Mizan.

 

http://dindingnusantara.blogspot.com/2009/06/filsuf-muslim-al-farabi-bagian-i.html

 

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Big_Crunch&ei=VtYmS8OjBY

 

Nasution, Andi Hakim. 1992. Pengantar ke Filsafat Sains. Jakarta ; PT. Pustaka Litera AntarNusa.

 

Rahman, Afzalur. 2000. Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan, tarj. M. Arifin, Jakarta : Rineka Cipta.


[1] Afzalur Rahman, Al-Qur’an sumber Ilmu Pengetahuan, tarj. M. Arifin, (Jakarta: Rineka Cipta ,2000), hlm 46

[2] Maurrice Bucaille, dkk. Pengetahuan Modern dalam Qur’an, tarj. A. Khozin Afandi, (Surabaya: Al “Ikhlas, 1995), hlm 20

[3] Mehdi Golshani, Peng. Zainal Abidin Bagir, Filsafat-Sains Menurut Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2003), hlm 98

[4] Q.S. Ali Imran : 190-191

[5] Achmad Baiquni , Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1997), hlm 208

[6] Mehdi Golshani, Op-Cit., hlm104

[7] Afzalur Rahman, Op-Cit., hlm 48

[8] Achmad Baiquni, Op-Cit., hlm 203

[9] Ibid., hlm 204

[10] Ibid., hlm 49

[11] Q.S. Al Anbiya : 30

[12] A. Baiquni, Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern, (Jakarta: Pustaka, 1983), hlm 27

[13] Ibid., hlm 30

[14] Artinya “Dan Dia-lah yang menciptakan sama’ dan ardh dalam enam yaum, sedangkan (sebelum itu) ‘Arsy-nya tegak pada ma’, untuk menguji siapa di antaramu yang lebih baik amalnya”.  Kata  Ibn  Rusyd mengatakan bahwa di dalam  al-Qur’an  digambarkan  bahwa sebelum  alam  diciptakan  Tuhan,   telah   ada   sesuatu   di sampingNya.

[15] Andi Hakim Nasoetion, Pengantar ke Filsafat Sains, (Jakarta : PT Pustaka Litera AntarNusa 1992), hlm 132

[16] Q.S. Al Baqarah : 29

[17] Achmad Baiquni, Op-Cit., hlm 220

[18] Q.S. Fushshilat : 12

[19] Achmad Baiquni, Op-Cit., hlm 232

[20] Afzalur Rahman, Loc-Cit., hlm 67

[21] Q.S. Adz Adzaariyaat : 47

[22] Achmad Baiquni Op-Cit., hlm 209

[23] Q. S. Asy Syuura : 29

[25] A. Baiquni, Op-Cit,, hlm 30

[27] Q.S. Al-Anbiyaa : 104

[28] Catatan: Hierarki, yang sudah melibatkan keberadaan malaikat, adalah gagasan Ibn Sina. Dalam Al-Farabi, meski hierarkinya amat mirip, konsep tentang malaikat-malaikat yang sejajar dengan setiap planet belum lagi muncul. Tentu saja, gagasan-gagasan tentang (hierarki) malaikat muncul secara lebih terelaborasi dalam filsafat Suhrawardi. http://dindingnusantara.blogspot.com/2009/06/filsuf-muslim-al-farabi-bagian-i.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s