JAQUES DERRIDA : TEORI DEKONSTRUKSI


 

PENDAHULUAN

Jika dilihat dari periodesasi perkembangan sejarah filsafat Ada tiga babakan dalam filsafat yang umum, yaitu filsafat pada masa Yunani kuno yang didominasi oleh rasionalisme, abad tengah didominasi agama Kristen dan filsafat abad modern didominasi oleh rasionalisme. Ketika itu sudah ada muncul jenis filsafat baru yaitu disebut sebagai filsafat kontemporer (contemporary philosophy). Periode keempat ini disebut filsafat pasca modern (postmodern philosophy), juga dikenal dengan sebutan filsafat postmo.

Problematika dunia filsafat kontemporer sering dikatakan masuk dalam era postmodern meliputi beberapa persoalan besar seperti klaim bahwa bahwa filasafat telah berakhir, rasionalitas tunggal universal tunggal tidak mungkin lagi dan epistimologi tidak perlu lagi.[1]

Lahirnya berbagai gerakan filsafat era postmodern ini dipicu dari ketidak mampuan narasi besar sains dan sistem kapitalisme yang bertahan sejak diinspirasikan oleh Descrates dan mampu membawa manusia pada kemajuan teknologi yang mengancam.[2]

Sebagai gambaran atas problematika hasil pemikiran filsafat modern pertama pandangan dualistiknya yang memandang keseluruhan subjek dan objek, spiritual dan material manusia dan dunia mengakibatkan ekspoitasi kekayaan alam atas pemenuhan kebutuhan individu golongan bahkan bangsa. Kedua pandangan dualistik dan positivistik akhirnya menjadikan manusia sebagai objek dan masyarakat dijadikan sebagai mesin ketiga moderenisasi ilmu-ilmu menjadi standarisasi tertinggi kebenaran. Ke empat materialism yang melahirkan persaingan bebas dan kelima militerisme Dan bangkitnya tribalisme.[3]

Demikian beberapa konsekwensi negative dari hasil pemikiran modern yang oleh  Bambang Sugiarto[4] memicu gerakan filsafat kontemporer atau postmodern yang ia klasifikasikan mejadi 3 katagori aliran filsafat kontemporer. Pertama pemikiran yang cenderung merevisi filsafat modern kearah pramodern mereka dikenal dengan sebutan filosof metafisika new age. Mereka muncul diwilayah fisika baru dengan sebutan “holism”. Beberapa tokohnya diantaranya F. Capra, J. Lovelock, Garry Zukav, Prigogin dll.

Kedua segala pemikiran yang hendak merevisi modernisme dengan tidak menolak secara total moderenisme itu sendiri, ia hanya merubah premis-premis modern. misalnya mereka tidak menolak sains pada dirinya sendiri melainkan sains hanya merupakan sebuah ideologi dimana kebenaran ilmiahlah dianggap yang paling sohih. Salah satu kelompok yang terkuat dalam dalam mengengembangkan gerakakn ini adalah A.N Whietehead diikuti oleh David Ray Grifin, J.Cobbnya, Jr. David Bohm dll.

Ketiga pemikiran-pemikiran yang terikat pada dunia sastra dan banyak yang membahas persoalan linguistik dimana kelompok ini memperkenalkan pemikirannya dengan kata kunci dekonstruksi. Pada awalnya strategi dekonstruksi ini untuk mencegah totaliterisme  pada segala sistem namun akhirnya jatuh kedalam relativisme dan nihilism, beberapa tokoh pengusung dekonstruski ini adalah Derrida, Focoult, Vatimo, lyotard dll.

Melihat dari kecenderungan perkembangan gerakan filsafat diatas, penulis tertarik untuk mengkaji dimana sebenarnya filsafat rasionalitas kontemporer barat dan kemana arah pemikiran filsafat kontemporer ?.Dalam makalah ini penulis tertarik untuk mengkaji filsafat kontemporer lebih dekat lagi dengan salah satu tokohnya  yakni Jaques Derrida.

SEKILAS BIOGRAFI DERRIDA

Jacques Derrida lahir di Aljazair pada tangggal 15 Juli 1930. Pada tahun 1949 ia berpindah ke Perancis, di mana ia tinggal sampai akhir hayatnya. Ia mengajar di École Normale Supérieure di Paris.  Orang tuanya yang bernama Aimé Derrida dan Georgette Sultana Esther Safar, menikah pada tahun 1923 dan pindah ke St.Agustinus di Aljazair pada tahun 1925. Pada tahun yang sama Rene Derrida (anak Aimé dan Georgette) lahir dan empat tahun kemudian Paul Derrida (adik Rene) lahir. Namun tiga bulan kemudian Paul meninggal. Pada tahun 1930 Jackie Derrida lahir. Di kemudian hari ia menyebut dirinya “Jacques”.Sepanjang hidupnya ia curiga bahwa ia hanya menjadi pengganti atau pelengkap ketiadaan Paul, kakaknya.  Derrida adalah seorang keturunan Yahudi. Ia pernah mendapat gelar doctor honoris causa di Universitas Cambridge. Pada tanggal 9 Oktober 2004, ia meninggal dunia di usia 74 tahun karena penyakit kanker.[5]

Sedangkan latarbelakang pemikiran Derrida sangat dipengaruhi oleh filsuf Edmund Husserl dan ahli bahasa Ferdinand de Saussure. Buku pertama Derrida adalah menerjemahkan karya Husserl yang berjudul The Origin of Geometry. Di dalam bukunya yang berjudul Of Grammatology, Derrida menyampaikan pandangannya terhadap pemikiran Saussure mengenai definisi bahasa. Ia mengatakan bahwa Saussure memberikan esensi manusia kepada bahasa. Logosentrisme dan fonosentrisme adalah paham yang berusaha dikritik Derrida. Menurutnya kelemahan logosentrisme adalah menghapus dimensi material bahasa, dan kelemahan fonosentrisme adalah menomorduakan tulisan karena memprioritaskan ucapan.[6]

Pada tahun 1987 Derrida mengeluarkan kumpulan esainya dalam teks yang berjudul Pshyche. Dasar dari risalat ini adalah untuk menyatakan seberapa besar kemungkinan untuk membicarakan (yang Lain). Menurut Derrida, sikap yang tepat terhadap (yang Lain) adalah menunggu, menginginkan, dan bersiap bagi masa depan, yaitu dari mana (yang lain) itu berasal (Yang Lain) tidak berasal dari masa kini. Untuk menjelaskan mengenai sikap menunggu dan bersiap, Derrida kembali mengutip dari tulisan sebelumnya yang berjudul structure dan Sign and Play. (Yang Lain) itu datang sebagai bencana, tidak peduli baik atau buruk, kedatangannya akan terlalu asing untuk dihasilkan oleh realita.[7]

SEKILAS PERKEMBANGAN FILSAFAT BARAT

Dalam hubungannya dengan filsafat barat, istilah modern-kontemporer, bertitik tolak dari kritik Immanuel Kant (1724-1804 M.) terhadap pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Dialah filsuf pertama yang secara sistematis telah melakukan kritik atas pengetahuan, dia hendak juga meninggalkan penggunaan akal secara dogmatis tanpa kritis. Dengan imbas terjadi dikotomi antara ilmu pengetahuan dan filsafat. Dengan ini ilmu pengetahuan dapat dikembangkan dengan terbuka-bebas sesuai fungsionalnya tanpa harus pulang pada sang induk, filsafat. Demikian halnya filsafat, tumbuh-berkembang dengan sangat cepat serta mengalami pergeseran dan modifikasi. Hingga sekarang kita bisa melihat dengan mata telanjang warna-warni aliran-aliran filsafat di Barat, yang dominan pengaruhnya untuk rujukan primer, guna melanjutkan masyarakat mereka itu.

Pada era “modern”—dilewati bangsa Barat pasca Immanuel Kant, dua setengah abad yang lalu—bangsa Barat hidup dengan konsep sistem nilai baru, struktur sosial-budaya pun sama, dengan sebelumnya pra-syarat Rasional, juga dengan ciri-cirinya yang orisinil. Sejauh yang terkait pemikiran filsafat barat kontemporer secara periodik, ada beberapa aliran pemikiran yang dominan yang semarak. Namun yang paling menonjol diantaranya ada tiga aliran :

Pertama, tipologi strukturalisme. Tipologi ini memusatkan perhatiannya pada masyarakat sebagai sistem, di mana fenomena-fenommena tertentu menggambarkan “suatu kenyataan sosial yang menyeluruh.”, atau pada landasan epistemologi (canguilhen) akan menggeser inti bahasan dari pemikiran esensialis tentang masyarakat dan pengetahuan kepada wacana yang melihatnya sebagai ciri-ciri struktural fenomena ini, baik ciri differensial atau pun relasional. Oleh sebab itu, sejarah ilmu tidak lagi merupakan ungkapan pemikiran; akan tetapi, melalui suatu konfigurasi epistemologis, sejarah membangun kerangka intelektual dengan maksud memaham pemikiran ini. Selain itu, perubahan empiris masa kini dari masyarakat atau individu bisa mengubah makna masa lalu. Masa lalu tidak bisa dipahami melalui pengertian yang dimilikinya sendiri sebab di era sekarang, masa lalu itu dipahami dengan menggunakan pengertian-pengertian masa sekarang.

Tipologi ini diwakili oleh Gaston Bachelard, seorang ahli epistemologi, ahli filsafat ilmu dan teoritisasi tentang imajinasi. Dia adalah tokoh kunci dari generasi strukturalis dan post-srukturalis di era sesudah perang. George Canguilhem, pelopor sebuah filsafat pengetahuan, rasionalitas dan tentang konsep-filsafat dengan landasan yang lebih kental. Menurut Foucault, di sisi lain, pemikir berkarakter rendah hati dan low profil ini sangat memiliki pengaruh pada pendekatan struktural terhadap sejarah, marxisme dan psikoanalis.

Selanjutnya, bapak psikoanalis, Sigmund Freud (1856-1939 M.) merupakan sosok yang amat kontroversial dengan hipotesanya yang amat mengerikan. Khususnya bagi kaum teolog- yang melihat frued hanya sebagai ateis, materialis dan pan-sexualis. Meskipun begitu, dunia berhutang atas kecermelangannya dalam menemukan psikoanalis melalui analisis terhadap gejala-gejala, yang sampai pada saat itu (masa hidup frued), dianggap sebagai hal yang teranalis seperti mimpi dan selip lidah (igau). Selain para pemikir di atas, masih dapat kita jumpai para pemikir semisal al-Thuser (1918-1990 M.), Pierre Bourdieu (1930-1982 M.), Jacques Lacan (1901 M.), dan masih banyak lagi tokoh structuralis lainnya.

Tipologi kedua, post-marxisme. Tipologi ini merupakan elaborasi lebih lanjut dari marxisme dengan karakter dan corak pemikiran yang sangat berbeda. Mereka menggunakan Marx untuk untuk mengembangkan sebuah strategi kritik yang sebenarnya bersifat emansipatoris, tepatnya di tujukan kepada ‘kapitalisme modern’. Dalam hal ini, Marx dipresentasikan dengan lebih elegan, bahkan sesekali mereka mengecam tanpa santun kepada pendahulunya itu. Mereka menganggap bahwa marxisme awal telah gagal, kacau balau, menafsirkan “Rasionalitas Sistem” dan “Rasionalitas aksi”, sebagai bukti konkrit tidak selarasnya antar sistem dan kehidupan.

Post-marxisme menerima dengan sadar keterlibatan politik Marx, tetapi menolak mentah-mentah penekanan Marx bahwa ekonomi adalah yang paling menentukan untuk suatu kesejahteraan. Statement ini, menurut mereka sudah tidak relevan, harus dikembangkan lebih jauh-luas secara konkrit melalui stabilitas politik, ekonomi, keamanan dan sosial-budaya dengan merujuk pada ruh emansipatoris di dalamnya.

Tipologi ketiga, Post-Strukturalisme. Pada fase ini, pemikiran diwarnai dengan varietas pemahaman dalam berbagai segi, sekaligus meninjau tulisan sebagai sumber subjektivitas dan kultur yang bersifat paradoks, yang sebelumnya merupakan hal yang bersifat sekunder. Ketidakpuasan Sausure akan pra-anggapan tertentu tentang subjektifitas dan bahasa (misalnya, pengutamaan wicara dibanding dengan tulisan) menuntut akan munculnya pemikiran ini.
Tentang “Yang lain” dan hubungan antara subjek dan objek, mendapat posisi tersendiri dalam post-strukturalisme yang notabene-nya terwarisi oleh konsep Nietzche (1844-1900 M.) sebagai salah satu orang yang mewakili tipologi post-structural, seorang filsuf destruktif. Dengan bangga ia menyebut filsafatnya sebagai filsafat destruktif.

Selanjutnya adalah Michel Foucault (1926-1984 M.), seorang sejarawan, psikolog dan sexolog yang paling cemerlang pada masanya. Foucault juga seorang Nietzchean dan Fruedian. Tidak berselang jauh darinya adalah Jacques Derida (1930-2003 M.). Seorang filsuf asal al-Jazair dan pemikir garda depan tentang kajian-kajian filsafat dekonstruktif. Melalui karya magnum opus-nya, of gramatology atau dalam versi arab berjudul fi Ilmi al-Kitabah. George Batailk, Roland Barthes, Uberto Uco dan banyak lagi filsuf-filsuf post-strukturalis yang tidak mungkin penulis sebutkan secara detail pada kesempatan ini.

ISU KONTEMPORER FILSAFAT BARAT

Dalam tulisanya Bambang Sugiharto membahas tiga persoalan besar yang dihadapi filsafat kontemporer yaitu isu tentang berakhirnya Filsafat, pluralisme dalam hal rasionalitas dan permainan bahasa dan kematian epistimologi.[8]

Persoalan pertama dalam filsafat tentang berakhirnya filsafat atau matinya filsafat dalam pandangan Derrida bertolak dari ketidak mampuan filsafat dalam menjelaskan persoalan sain dan ilmu pengetahuan.

Teori dekonstruki yang dipopulerkan oleh Derrida pada awalnya istilah tersebut  digunakan oleh Heidegger ketika ia berkata bahwa , …Konstruksi dalam filsafat itu dengan sendirinya harus serentak destruksi yaitu dekonstruksi konsep-konsep traditional dengan cara yaitu kembali ke tradisi…”.[9]

Menurut Sugiharto dekonstruksi biasanya dirumuskan sebagai cara atau metode membaca teks unsur terpenting dari kerangka filosofis yang oleh beliau dipahami sebagai cara atau metode membaca secara dekontruktuf.[10] Pemahaman tersebut sejalan dengan teori dekontruktif Derrida dari sebuah karyanya Margin of Philosophy yang mengatakan bahwa “ dibalik teks filosofis yang terdapat bukanlah kekosongan melainkan sebuah teks lain, suatu jaringan kekuatan-kekuatan yang pusat referensinya tak jelas”.[11]

Dalam karya yang lain “positions” secara skematik teori dekonstruksi Derrida terdiri dari 3 langkah, pertama mengidentifikasi hierraki oposisi dalam teks yang biasanya terdapat peristilahan yang diistimewakan secara sistematik. Kedua oposisi-oposisi tersebut dibalik dengan menunjukan adanya saling ketergantungan diantara yang saling berlawanan itu sekaligus mengusulkan privilese secara terbalik. Ketiga memperkenalkan sebuah istilah atau gagasan baru yang tidak bisa dimasukan dalam katagori lama.[12]

Sampai disini nampak bahwa menurut pemahaman Derrida bahwa persoalan Filsafat selalu berkaitan dengan dengan suatu sistem metafor ini terungkap dari perkataannya, “bila saja orang bisa mereduksi segala metaphor kedalam metafor “pokok” maka tak akan ada lagi metafor benar selain metafor pokok itu sendiri”.[13]

Namun dalam pandangan Richard Rorty gagasan Derrida tentang pemilahan tersebut mirip dengan pemilahan hubungan inferensial antar kalimat di satu pihak dan asosiasi non inferensial antara kata dipihak lain. Yang pertama meletakan kunci makna pada kalimat, sedangkan yang ke dua meletakannya pada satuan kata.[14]

Permasalahan yang menajdi isu filsafat kontemporer yang berupaya mencari argumentatif yang mampu mencari syarat-syarat mendasar dari sebuah pemikiran akhirnya bertumpu pada paradox dan merupakan sebuah tantangan dalam filsafat itu sendiri.

Kedua persoalan yang menjadi focus dari kajian filasafat Derrida tentang rasionalitas dan pluralism. Pernyataan tentang berkhirnya filsafat pada gilirannya mengandaikan kritik mendasar atas konsep tentang rasionalitas itu sendiri zaman Imanuel Kant.  Rasionalitas kekinian cenderung dianggap amat terkait dengan bahasa.Rasionalitas kini tidak bersifat mutlak dan universal melainkan bersiafat sementara dan konvensional.[15]

Pluralitas permainan bahasa dan bentuk kehidupan (budaya) diangap sebagai landasan titik berangkat pemikiran post modern. keadaan seperti ini sebagaimana pandangan Lyotard tentang moderenisme adalah tendensi untuk melegitimasikan tiap bentuk pengetahuan melalui meta wacana atau narasi besar  seperti kemajuan, kebebasan akal, emansifasi. Post modernism sebaliknya menyarankan untuk kembali kepada pragmatika bahasa ala Wittgenstein yakni dengan mengakui bahwa kini kita hidup dalam berbagai permainan bahasa yang sulit berkomunikasi secara adil dan bebas.[16]

Namun demikian sekalipun antara Rorty dan Lyotard sama dalam memahami pluralistik bahasa sebagai problem filsafat namun keduanya bebeda dalam memberikan pemaknaannya, dalam hal ini bagi Lyotar prinsip dasar yang berlaku bukanlah universalitas akal atau kesepakatan namun justru kebutuhan untuk memongkar kesepakan-kesepakatan yang telah mapan (narasi besar) untuk memberikan penghargaan terhadap narasi kecil (lokal) untuk tampil dalam percaturan bahasa. Namun bagi Rorty sekalipun mempunyai kesamaan ingin melepaskan diri dari narai besar atau meta-wacana namun perbedaan budaya dan bahasa tidak ditempatkan dalam ruang antagonistik dan tidak terjembatani.[17] Namun sampai sini ia pun belum mampu memberikan secara jelas bagaimana secara jelas permainan bahasa tersebut dapat melahirkan universalitas bahasa.

Ketiga pernyataan filsafat kontemporer tentang  tumbangnya efistimology dalam mengetahui hakikat pengetahuan pada dasarnya berangkat dari kritik atas rasionalitas dan keterukuran (commensurability) yang menempatkan keterbatasan manusia yang ditempatkan sebagai subjek dalam hubungannya dengan dunia yang membawa konsekwensi tentang Kebenaran. [18]

Kritik terhadap konsep efistimologi sebagai kebenaran yang diistilahkan oleh Rorty sebagai fondasinalisme akhirnya jatuh pada pragmatism yakni memandang bahwa kebenaran adalah hanyalah sebuah nama untuk ciri yang dimiliki oleh semua pernyataan yang benar.[19] Jadi dalam pandangannya kebenaran adalah sebuah alat pengesahan bagi keyakinan yang terbukti berguna dan tidak membutuhkan pengesahan yang lain.

Lain halnya dengan Heideggerian yang menyatakan bahwa kebenaran bukan sesuatu konsep yang sesuai dan kenyataan obyektif melainkan tersingkapnya Sang Ada (lichtung der sein) yaitu peristiwa dimana hakikat segala sesuatu itu muncul tiba-tiba muncul menampilkan diri dan itulah kebenaran[20]

Bagi Merleau-Ponty kebenaran bukan kenyataan sesuatuatu yang benar-benar terjadi namun lebih dipahami sebagai kemasukakalan (reasonableness) segala upaya untuk mencari kesepakatan melalui dialog yang bebas.[21]

Berbeda dengan Heidegger Dan Merleau-Ponty, Michel Foucault melihat sisi lain dari kebenaran sebagai kekuasan. Baginya kebenaran itu pada dasarnya selalu terkait rumit dengan keinginan dan kekuasaan.[22] Kekuasaan adalah suatu jaraingan atau medan hubungan-hubungan dimana subjek merupakan produk sekaligus agen kekuasaan.

Dari penolakan terhadap efistimologi modern tersebut melahirkan berbagai macam pandangan tentang kebenaran  ada yang melihat kebenaran sebagai pragmatism sesuatu kebaikan aktual yang memungkinkan aktualisasi yang lebih baik lagi, ada yang secara hermeunetik yakni tersingkapnya makna terdalam dari realitas atau sebagai jaringan kekuasaan .

JAQUES DERRIDA DAN TEORI DEKONSTRUKSI

Dari beberara diskursus diatas nampaknya kajian filsafat kontemporer banyak tertarik pada tema-tema bahasa seperti semilogi, strukturalisme, post strukturalisme, filsafat bahasa seharihari, teori speech-act atau hermenetika, dimana seratus tahun yang lalu kunci dari kajian filsafat tidak terlepas dari akal, roh, pengalaman dan kesadaran.[23]

Secara perlahan-lahan bahasa berkembang menjadi tema sentral dapat dilihat dari tematis logis (bukan historis kronologis). Pertama pada masa Frege, Husserl, Wittgenstein dan Carnap bahasa meminjam istilah Derrida dijadikan sebgai logosentris yakni dimensi-dimensi dasar bahasa diangap hanya tampil dalam fungsi-fungsi logisnya misalnya dalam penilaian (baik dan buruk), pernyataan (salah –benar) dan representasi (etika politik sebagai tanggung jawab). Kedua dalam tahun 50-han Wittgenstein memunculkan filsafat bahasa sehari-hari (Speech-Act). Ketiga filsafat yang  terpengaruh oleh perkembangan di luar filsafat itu sendiri yaitu diwilayah susastera dan kritik teks, bahasa dilihat dari nilai instrintiknya dikaji ulang hakikat dan fungsinya.[24]

Dari kajian tematik ketiga ini yang diperkenalkan oleh Heidegger, Derrida dan Ricoeur menjadi kajian yang banyak menarik perhatian untuk mengkaji filsafat kontemporer pada mulanya berpokus pada logika kemudian pada kehidupan dan akhirnya pada susastera dan bidang metafor.[25]

Dari Heideggerl-ah kemudian Derrida terinspirasi untuk menarik metafor sebagai kajian filsafat kontemporer ke titik radikalnya yaitu mendestabilisaskan segala bentuk skema katagori dan konseptual dengan menggali segala bentuk permaianan dan pemilahan yang tersembunyi dibalik teks.[26]

Dalam salah satu essaynya “White Mythologi dan “Retrait Of Metaphor” Derrida tidak mengaitkan bahasa pada “Ada” seperti halnya Heiddegger melainkan pada permainan perbedaan. Permainan ini seallu ada dalam setiap teks karena menurutnya setiap teks senantiasa dibangun dalam permaian perbedaan.[27]

Lebih jauh Derrida menyatakan metafor adalah konsep metafisik yaitu perbedaan antara yang literal dengan yang metaforis bersandar pada sebuah anggapan bahwa pada dasarnya terdapat arti baku bagi setiap kata dan terdapat perbedaan antara yang indrawi dan non indrawi. Jika metafor ini terkait erat dengan metafisika maka untuk mendekonstruksikannya kita harus menghancurkan anggapan metafor itu dari metafisikanya sendiri maka yang rasional menurutnya adalah transpormasi diri penulisan filsafat itu sendiri.[28]

Didalam essaynya “White Mythology”  Derrida memperlihatkan bahwa metafor sebetulnya dibentuk oleh keseluruhan jaringan konsep dan assosiasi yang digunakan dalam wacana. Heidegger mensyaratkan bahwa kita senantiasa tinggal dalam bahasa tetapi Derrida sebaliknya bahwa kita senantiasa bergerak dalam bahasa yang tidak stabil, karena menurutnya baik metafor atau bukan metafor akhirnya hanya merupakan pasangan-pasangan lawan kata secara semantik.[29]

Sedangkan dalam “The Retrait of Metaphor”, Derrida menafsirkan gagasan Heidegger tentang Metafor yang mengartikan membaca teks dengan menangkap arti teks dengan teks lainnya dan seterusnya menanarik semua teks tersebut kearah istilah kunci.[30] Konsep pemaknaan ini terkena

Derrida menjelaskan dekonstruksi dengan kalimat negasi. Menurutnya dekonstruksi bukan suatu analisis dan bukan kritik, bukan suatu metode, bukan aksi maupun operasi. Singkatnya, dekonstruksi bukanlah suatu alat penyelesaian dari “suatu subjek individual atau kolektif yang berinisiatif dan menerapkannya pada suatu objek, teks, atau tema tertentu”. Dekonstruksi adalah suatu peristiwa yang tidak menunggu pertimbangan, kesadaran, atau organisasi dari suatu subjek, atau bahkan modernitas.[31]

Derrida mengadaptasi kata dekonstruksi dari kata destruksi dalam pemikiran Heidegger. Kata dekonstruksi bukan secara langsung terkait dengan kata destruksi melainkan terkait kata analisis yang secara etimologis berarti “untuk menunda”-sinonim dengan kata men-dekonstruksi. Terdapat tiga poin penting dalam dekonstruksi Derrida, yaitu: pertama, dekonstruksi, seperti halnya perubahan terjadi terus-menerus, dan ini terjadi dengan cara yang berbeda untuk mempertahankan kehidupan; kedua, dekonstruksi terjadi dari dalam sistem-sistem yang hidup, termasuk bahasa dan teks; ketiga, dekonstruksi bukan suatu kata, alat, atau teknik yang digunakan dalam suatu kerja setelah fakta dan tanpa suatu subyek interpretasi.

Dalam teori dekonstruksinya Derrida menunjukkan kelemahan dari ucapan untuk mengungungkapkan makna dengan menggunakan kata difference dengan kata differance berasal dari kata difference yang mencakup tiga pengertian, yaitu [32]

  1. to differ— untuk membedakan, atau tidak sama sifat dasarnya;
  2. differe (Latin)– untuk menyebarkan, mengedarkan;
  3. to defer— untuk menunda.

Dalam pengucapannya tidak terdengar perbedaan tetapi perbedaan pemakaian huruf ‘a’ untuk mengganti huruf ‘e’ hanya terlihat dalam tulisan. Ini dilakukan Derrida untuk menunjukkan peleburan makna dari tiga pengertian dalam kata difference yang tidak dapat dilakukan oleh logosentrisme dan fonosentrisme. Melalui tulisan terjadi otonomisasi teks.Dekonstruksi adalah suatu peristiwa yang tidak menunggu pertimbangan, kesadaran, atau organisasi dari suatu subjek, atau bahkan modernitas Menurut Derrida bahasa bersumber pada teks atau “Tulisan”. Tulisan adalah bahasa yang maksimal karena tulisan tidak hanya terdapat dalam pikiran manusia, tetapi konkret di atas halaman.Tulisan memenuhi dirinya sendiri karena Tulisan terlepas dari penulisnya begitu ia berada di ruang halaman. Ketika dibaca, Tulisan langsung terbuka untuk dipahami oleh pembacanya.

Demikianlah Derrida menempatkan kajian bahasa pada titik yang lebih radikal yang menurut dimana menurut Sugiharto menghantarkan pemahaman kita pada suatu pemahaman bahasa yang pada akhirnya  hanya sebagai teori transcendental tentang hakikat tekstualitas. Sedangkan dari kubu pragmatism yang memandang persoalan metafor diwakili oleh Rorty sebagai pseudo problem alias persoalan palsu yakni hanya persoalan verbal belaka.[33]

Namun demikian nampaknya teori dekontruksi yang ditawarkan Derrida layak juga ditempatkan pada suatu tempat yang memberikan jalan alternative dari pengembaraan filsafat ataupun suatu keterkungkungan rasionalitas bahkan kepastian efistimologi sekalipun dengan menampilkan keagungan bahasa yang mencari makna tedalamnya dengan caranya sendiri.

KESIMPULAN

Memahami tiga isu kontemporer dalam dunia filsafat barat nampaknya problem yang terpenting yang dihadapi filsafat barat adalah ketidakmampuan rasionalitas manusia dalam menjabarkan problemnya sendiri dari keterbatasan bahasa konseptual dan logika faktual yang tak biasa di jabarkan melalui bahasa literal maupun metaforis oleh sebab itu konsep dekonstruksi Derrida nampaknya hanya dapat membantu memberikan pengungkapan tabir kematian filsafat, kearifan rasionalitas serta ketegangan efistimologi.

 

 


[1] Bambang  Sugiharto, Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat, hlm, 18

[2] Ibid, hlm 29

[3] Ibid, hlm, 30

[4] Ibid.,

[5] http//wikipedia,. com

[6] Ibid

[7] ibid

[8] Bambang, hlm  43

[9] Ibid

[10] Ibid.,  hlm, 44

[11] Ibid.hlm , 45

[12] Ibid, hlm , 46

[13] Ibid

[14] Bambang  Sugiarto, 49-50

[15] Ibid, hlm, 58

[16] ibid

[17] Ibid, hlm  59

[18] Ibid, hlm  67

[19] Ibid,  hlm 74

[20] Ibid, hlm  75

[21] Ibid, hlm  76

[22] Ibid

[23] Ibid, hlm,  80

[24] Ibid, hlm,  81

[25] ibid

[26]  Ibid, hlm, 83

[27] Ibid, hlm, 131

[28] Ibid, hlm, 132

[29] Ibid, hlm, 132

[30] Ibid,.

[31] http//wikipedia,. com

[32] ibid

[33] Bambang  Sugiharto, hlm 133,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s