Bingkai Pertanyaan?

Dalam Periodisasi Sejarah Islam

 

 

  1. Pengertian Babakan Waktu

Pembabakan waktu atau periodisasi adalah salah satu proses strukturisasi waktu dalam sejarah dengan  pembagian atas beberapa babk, zaman atau periode. Peristiwa-peristiwa nasa lampau yang begitu banyak dibagi-bagi dan dikelompokkan menurut sifat, unit, atau bentuk sehingga membentuk satu kesatuan waktu tertentu.

Pembagian babakan waktu merupakan inti cerita sejarah. Pembabakan atau periodisasi waktu adalah pembagian ats dasar pengelompokkan, babakan zaman dan waktu tertentu didalam cerita sejarah. Jadi babakan waktu dibagi atas beberapa babak, zaman atau beberapa periode. [1]

2.  Tujuan Babakan Waktu Adapun tujuan pembabakan waktu ialah;

a. Memudahkan pengertian

Gambaran peristiwa- peristiwa masa lampau yang sedemikian banyak itu dikelompok-kelompokkan. Disederhanakan dan diikhtisarkan menjadi satu tatanan (Orde). Sehingga memudahkan pengertian.

b. Melakukan penyederhanaan

Gerak pikiran dalam usaha untuk mengerti ialah melakukan penyederhanaan. Begitu banyaknya peristiwa-peristiwa sejarah yang beraneka ragam dan bersimpang siur itu sukar atau ruwet disusunnya menjadi sederhana, sehingga pikiran mendapatkan ikhtisar yang mudah diartikan. (Hugiono, et.al., 199:54).

c. Mengetahui peristiwa sejarah secara kronologis.

Menguraikan peristiwa sejarah secara kronologis akan memudahkan pemecahan dari masalah. Interpretasi serata analisis sejarah dan masalah pengukuran waktu. Ahli kronologi menerangkan berbagai tarikh, atau sistem penanggalan yang telah dipakai diberbagai tempat dan pada berbagai waktu serta memungkinkan kita untuk menterjemahkan penanggalan dari satu tarikh ke tarikh yang lain.

 d. Untuk memenuhi persyaratan sistematika ilmu pengetahuan.
Semua peristiwa-peristiwa masa lampau itu setelah dikelompokkan antara motivasi dan pengaruh peristiwa itu kemudian dikaitkan  lalu disusun secara teratur atau sistematis.

 e. Memudahkan klasifikasi dalam ilmu sejarah.

Klasifikasi dalam ilmu sejarah meletakkan dasar babakan waktu. Masa lalu  yang tidak terbatas peristiwa dan waktunya dipastikan isi bentuk dan waktunya menjadi bagian-bagian babakan waktu. (Hugiono, et.al., 199:55).[2]
          Klasikasi-klasifikasi diatas atas dasar keanekaragaman peristiwa. Babakan waktu merupakan cerminan pandangan hidup penyusun. Kepribadian penyusun tampak didalamnya. Dangkal, dalam, luas atau sempit pengetahuan penyusun tampak dari babakan waktu yang dibuatnya.
Dengan babakan waktu akan jelaslah kerangka cerita yang merupakan penjelmaan pandangan hidup dasar filsafat serata tafsiran sejarawan. Sebab tanpa penjelasan dan tafsiran, fakta-fakta masa lalu akn menjadi kronik,anal atau catatan-catatan peristiwa.

Ibnu Khaldun (1332-1406)
    Dalam bukunya “Mukaddimah Prolegomenah”, beliau menyusun pembabakan sejarah sebagai berikut:
a)    Zaman Nomade
b)    Zaman dimana tempat kediaman telah menetap
c)    Zaman puncak kebudayaan yang tinggi dan mulai menurun hingga sesudah mencapai waktu 200 tahun mulai yang baru lagi.[3]

Periodesasi Sejarah Islam.

Dinamika Islam di mulai dari periode awal kemunculannya sampai sekarang, telah tercatat dalam sejarah dunia. Berbagai peristiwa penting yang terjadi memberi warna bagi perkembangan kehidupan umat, khususnya dalam syiar Islam.

Sejarah perkembangan peradaban Islam dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. periode Klasik (650 – 1250 M),
  2. periode Pertengahan (1250 – 1800 M)
  3. dan periode Modern (1800 – sekarang).

Yang dimaksud abad pertengahan ialah tahapan sejarah umat Islam yang diawali sejak tahun-tahun terakhir keruntuhan Daulah Abbasiyah (1250 M ) sampai timbulnya benih-benih kebangkitan atau pembaharuan Islam yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 1800 M.Periode pertengahan ini juga terbagi menjadi dua bagian, yaitu masa kemunduran I (1250 – 1500 M) dan masa tiga kerajaan besar (1500-1800 M). B. MASA KEMUNDURAN I (1250 -1500 M.)[4]

Pada Tahun 570 M Nabi Muhammad SAW lahir di Mekah, sebuah kota yang amat penting dan terkenal di Semenanjung Arabia pada masa itu. Nabi Muhammad SAW berasal dari Bani Hasyim, kabilah yang paling mulia dalam suku Quraisy yang mendominasi masyarakat Arab. Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW dikenal dengan nama “Tahun Gajah”, karena bertepatan dengan datangnya pasukan gajah yang dipimpin Abrahah (gubernur kerajaan Habsyi di Yaman) menyerbu Mekah untuk menghancurkan Ka’bah dan memindahkan pusat kegamaan ini ke negerinya.

Ada sebagian pendapat sejarawan awal mula periodesasi dalam sejarah islam di mulai pada Tahun 622 M Karena perlakukan kaum Quraisy semakin kejam terhadap kaum muslimin di Mekah, maka Nabi SAW segera memerintahkan para sahabat dan pengikutnya untuk hijrah ke Yatsrib (yang kemudian disebut Madinaturrasul). Setelah Nabi SAW tiba dan diterima penduduk Madinah, Nabi SAW menjadi pemimpin kota itu. Ia meletakkan dasar-dasar kehidupan yang kokoh, antara lain dengan menetapkan Piagam Madinah bagi pembentukan suatu masyarakat baru yang biasa disebut “negara Madinah”. Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam semakin bertambah kuat.[5]

Karena Pada tahun 622 M ini pula tahun Hijriah ditetapkan penanggalan, awal zaman Islam. Awal tarikh Hijriah terhitung sejak Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah pada 622 M. Penetapan tahun Hijriah ditentukan belakang oleh Khalifah Umar pada 17 H/638 M dengan mendengar usulan para sahabat. Dari berbagai usulan yang muncul, Umar menerima usulan Ali bin Abi Thalib yang mengangkat peristiwa hijrah Nabi SAW dari Mekan ke Madinah sebagai awal tahun Islam. Alasannya, hijrah merupakan titik pemisah antara masa Mekah dan masa Madinah, dan merupakan momentum terbesar perjuangan Nabi SAW dalam menyebarkan Islam.

Kemudian pada tahun 624 M terjadinya puncak pertikaian antara kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy ditandai dengan perang pada 17 Ramadhan 2 H/624 M yang terjadi di Wadi Badar, 125 km selatan Madinah. Perang ini dikenal dengan nama Perang Badar.

Dilanjutkan pada tahun 625 M dengan meletusnya perang di Bukit Uhud dan disebut Perang Uhud. Perang ini disebabkan keinginan balas dendam kaum musyrikin Quraisy Mekah yang kalah dalam Perang Badar. Awalnya pasukan muslim berhasil membuat tentara Quraisy mundur, namun karena kelalaian pasukan muslim, terjadi serangan balik yang membuat pasukan Islam terjepit sehingga Hamzah bin Abdul Muthalib yang dijuluki “Singa Allah” terbunuh.

Dikalangan sejarawan terdapat perbedaan tentang saat dimulainya sejarah Islam. Secara umum, perbedaan pendapat itu dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, sebagian sejarawan berpendapat bahwa sejarah Islam dimulai sejak Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul. Oleh karena itu, menurut pendapat pertama ini, selama tiga belas tahun Nabi Muhammad tinggal di Mekah,telah lahir masyarakat Muslim meskipun belum berdaulat. Kedua, sebagian sejarawan berpendapat bahwa sejarah umat islam dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, karena masyarakat Muslim baru berdaulat ketika Nabi Muhammad Saw tinggal di Madinah. Nabi Muhammad tinggal di Madinah tidak hanya sebagai seorang rasul, tetapi juga sebagai pemimpin atau kepala Negara berdasarkan konstitusi yang disebut dalam Piagam Madinah.[6]

Disamping perbedaan mengenai awal sejarah umat Islam, sejarawan juga berbeda pendapat dalam menentukan fase-fase atau periodisasi sejarah Islam. Ada dua periodisasi sejarah Islam yang dibuat oleh sejarawan Indonesia, yaitu A. Hasymy[7] dan Harun Nasution[8]

 

 

Sumber Referensi

Hugiono,Drs, dan Poerwantana,Drs PK.1992. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Rineka Cipta.

Tamburaka,H. Rustam E. Prof. Drs., MA.1999. Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat & IPTEK. Jakarta:Rineka Cipta

Atang Abd Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam. PT. Remaja Rosdakarya Bandung, Edisi revisi tahun 2010

A Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang 1978

Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI-Press 1985

Ibnu Khaldun, Muqaddimah. Mesir: Mushtafa Muhammad

http://sejarahperkembangandandinamikaislamdidunia(dari570sampaisekarang)


[1] Tamburaka,H. Rustam E. Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat & IPTEK. Jakarta:Rineka Cipta 1999

[2] Hugiono, Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Rineka Cipta. et.al., 199:55

[3] Ibnu Khaldun, Muqaddimah. Mesir: Mushtafa Muhammad

[4] Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya di kutip dari Atang Abd Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam. PT. Remaja Rosdakarya Bandung. h. 137

[6] Atang Abd Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam. PT. Remaja Rosdakarya Bandung, Edisi revisi tahun 2010 h. 138

[7] A. Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang 1978

[8] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI-Press 1985

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s