NURCHOLIS MADJID DAN AMIEN RAIS


KOMPARASI PEMIKIRAN DUA CENDIKIAWAN MUSLIM INDONESIA

NURCHOLIS MADJID DAN AMIEN RAIS

TERHADAP PERKEMBANGAN POLITIK DI INDONESIA

 

 

 

Nurcholis Madjid atau biasa kita sapa dengan sebutan Cak Nur, lahir di Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 17 Maret 1939 atau bertepatan dengan 26 Muharram 1350 Hijriyah. Ayahnya KH. Abdul Madjid, seorang kyai jebolan Pesantren Tebuireng, Jombang, yang didirikan dan dipimpin oleh salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Ibunya putrid Kyai Sadjad dari Kediri yang juga teman dari KH. Hasyim Asy’ari (Dedi Djamaluddin Malik dan Idi Subandy Ibrahim. 1998).

 

Sejak kecil Nurcholish Madjid mendapatkan kesempatan untuk menikmati dua cabang pendidikan, yakni pendidikan model madrasah yang lebih banyak memberikan pelajaran agama, dan pendidikan umum, yang menggunakan metode pengajaran modern. Pada tingkat dasar inilah Nurcholish Madjid menjalani pendidikan di Madrasah al-Wthaniyah, yang dikelola orang tuanya sendiri, dan Sekolah Rakyat (SR) di Mojoanyar, Jombang. Selepas itu, Nurcholish Madjid melanjutkan pendidikannya pada Sekolah Menengah Pertama (SMP), di Jombang pula. (Siti Hadroh, 1998).

 

Nurcholish Madjid muda hidup di tengah keluarga yang lebih kental membicarakan politik. Selain keluarganya yang berasal dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) ayahnya, KH. Abdul Madjid, adalah salah seorang pemimpin partai politik Masyumi dan membentuk partai sendiri, ayahnya tetap bertahan di Masyumi (situshttp://www.tokohindonesia.com/majalah/09/nurcholis.shtml.diakses 21 juni 2009)

 

Pada usia 14 tahun, Nurcholish Madjid belajar ke Pesantren Darul-Ulum, Jombang. Bertahan selama dua tahun, karena banyak dicemooh oleh teman-temannya karena pendirian politik ayahnya yang banyak terlibat di Masyumi. Nurcholish kemudian dipindahkan ayahnya ke Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Menamatkan pendidikannya di Gontor pada 1960, dan sempat mengajar di almamaternya selama satu tahun lebih. Perpindahan pendidikan Nurcholish Madjid ke Gontor  cukup berpengaruh dalam mewarnai intelektualitas Nurcholish Madjid. Yakni tradisi yang memadukan dua kultur, liberal gaya modern Barat dengan tradisi islam klasik. Kedua kultur ini diwujudkan dalam system pengajaran maupun materi pelajaran. Literatur kitab kuning karya ulama klasik juga diajarkan di Gontor tetapi dengan system pengajaran yang modern, suatu system yang relative kurang dikenal dalam tradisi pesantren klasik pada umumnya. Pada tahun 1968, dalam kapasitasnya sebagai ketua umum PB HMI, Nurcholish Madjid berkunjung ke Amerika untuk memenuhi undangan program “ Profesional Muda dan Tokoh Masyarakat”, dari  pemerintah Amerika Serikat.

 

Pemikiran Nurcholish Madjid di era 1966-1968 yang cenderung mencurigai Barat melalui gagasan modernisasi dan westernisasi yang banyak diperkenalkan oleh intelektual “sekuler” pada awal orde baru memperoleh respons yang  negative dari Cak Nur. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa ia diundang untuk berkunjung ke Amerika pada masa itu. Kunjungan itu berlangsung selama lima pecan. Selepas lawatan itu, Nurcholish Madjid tidak langsung kembali ke tanah air melainkan singgah dan melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah ini sangat mempengaruhi warna pemikiran Nurcholish Madjid untuk kemudian menulsi Nilai Dasar Perjuangan (NDP), suatu dokumen organisasi yang kemudian dikenal sebagai ‘pegangan ideologis” HMI (Anas Urbaningrum, 2004). Pada tahun 1969, pulang dari lawatan pertamanya di Amerika Serikat dan beberapa Negara Timur Tengah inilah, kumpulan gagasan radikal Nurcholish yang merupakan pendapat dan pemikirannya mengenai pembaharuan di dalam Islam di syahkan menjadi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dalam kongres HMI di Malang. Sebelum Nurcholish Madjid menyusun NDP, sebetulnya ia telah menyusun semacam kertas kerja yang disampaikan pada seminar Garis Perjuangan HMI yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi (Badko)HMI Jawa Bagian Barat, bulan Februari 1968. Di dalam pertemuan ini, Nurcholish Madjid menyebutkan sebagai Nilai-Nilai Dasar Islam (NDI). Tetapi menurut Nurcholish Madjid rumusan itu hanya untuk menjawab persoalan-persoalan situasional saat itu. Juga kalau disebut NDI, berarti klaim HMI terhadap Islam dianggap terlalu besar, maka NDI diganti menjadi NDP. Pada sebuah acara Halal bi Halal dan Silaturahmi organisasi pemuda, pelajar dan mahasiswa Islam, yang terdiri dari undur Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Persatuan Sarjana Muslim Indonesia (Persami) dan Gerakan Pemuda Islam (GPI) pada tanggal 3 Januari 1970, Nurcholish Madjid yang melansir pemikirannya tentang sekulerisasi (Anas Urbaningrum 2004). Nurcholish Madjid yang bertindak sebagai pembicara tunggal dalam forum ini menyampaikan makalah dengan judul “ Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”, yang merupakan momen bagi Nurcholish Madjid dalam melontarkan gagasannya mengenai sekulerisasi dan anjurannya kepada kaum muslimin untuk membedakan mana yang sekulerisasi dan transcendental serta mana yang temporal.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s